Polibisnis, Volume 9 No.1 April 2017 ISSN 1858 – 3717 81 PELESTARIAN TRANSPORTASI BENDI OLEH KOMUNITAS BENDI KOTA PADANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA Lisa Wahyuni Alumni Politeknik Negeri Padang Prodi.Usaha Perjalanan Wisata Email: lisawahyuni@yahoo.com Ranti Komala Dewi Dosen Politeknik Negeri Padang Jurusan Administrasi Niaga Email: ranti_kd2@yahoo.com ABSTRACT The research purposively is to examine how the bendi community in conserving bendi as a cultural heritage in Padang city. Bendi is a traditional transportation that can found in mostly city of West Sumatera province, like in Padang. The method of the research used is descriptive quantitative by collecting data through interviews and observation. The results shows that the bendi community already conserving bendi as a cultural heritage in Padang city. In order to overcome this problem, the bendi community conserving bendi as a cultural heritage in Padang city by protection, development and utilization of bendi as cultural heritage. Key words: Conservation, bendi, cultural heritage 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 1930 Bendi pertama kali berada di kota Padang tepatnya di stasiun Simpang haru, transportasi ini menjadi transportasi primadona di Minangkabau. Pada masa kolonial Belanda, transportasi bendi sering digunakan sebagai alat yang sangat diperlukan masyarakat untuk mengangkut barang belanjaan masyarakat dari pasar. Bendi juga sering dijadikan alat transportasi bagi orang-orang Belanda, dan merupakan salah satu bagian penghubung yang tidak terpisahkan dari kota maupun desa. Semakin berkembangnya zaman disaat itulah transportasi bendi mulai berkurang peminatnya di kota Padang karena kalah saing oleh kahadiran bemo di tahun brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Politeknik Negeri Padang (PNP)