Seminar Nasional Teknologi Industri 2010 ISBN : 978-979-18265-2-5 TE 7 - 1 REKAYASA ALAT PENDETEKSI ALIRAN DARAH DENGAN PRINSIP DOPPLER UNTUK OPERASI WASIR DENGAN TEKNIK DG-HAL Daniel Santoso, Darmawan Utomo, Iwan Setyawan Fakultas Teknik Elektro dan Komputer, Universitas Kristen Satya Wacana Email : danvicz@yahoo.com ABSTRAK Operasi wasir dengan teknik DG-HAL memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknik konvensional. Meskipun demikian, teknik DG-HAL mutlak memerlukan alat medis khusus yaitu alat pendeteksi aliran darah dengan prinsip Doppler beserta kelengkapannya. Alat medis ini hanya diproduksi di luar negeri dengan jumlah produsen yang terbatas dan harganya amat mahal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mitra menggandeng tim peneliti untuk menghasilkan alat pendeteksi aliran darah dengan prinsip Doppler untuk keperluan operasi wasir dengan teknik DG-HAL dengan biaya ekonomis dan mempunyai kinerja dan fasilitas yang minimal sama dengan alat medis yang telah ada. Alat medis ini terdiri dari dua bagian utama yaitu sebuah proctoscope yang dilengkapi dengan transduser ultrasonik dan sebuah unit utama pengendali transduser. Metode penyelesaian masalah dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui studi literatur dan studi referensi. Obyek referensi dalam program ini adalah KM-25 dari HADECO. Literatur didapatkan dari buku dan jurnal yang membahas teknik ultrasonik Doppler. Pada akhir program penelitian ini, telah dihasilkan luaran berupa purwarupa alat pendeteksi aliran darah dengan prinsip Doppler. Fungsi utama purwarupa ini telah diujikan kepada 10 subyek untuk mendeteksi aliran darah pembuluh nadi dengan tingkat keakuratan 100%. Desain proctoscope perlu disempurnakan untuk meningkatkan ergonomi, daya tahan, dan sterilitasnya agar dapat dipergunakan dalam operasi sesungguhnya dengan baik. Kata kunci : Wasir, DG-HAL, Doppler Pendahuluan Hemorrhoids, atau dalam bahasa sehari hari dikenal sebagai wasir atau ambeien mengacu pada suatu kondisi ketika pembuluh pembuluh vena di sekitar anus atau rektum mengalami pembengkakan dan peradangan [1]. Pendapat umum mengatakan bahwa wasir ditimbulkan oleh ketegangan saat mengejan ketika buang air besar. Kehamilan, penuaan, konstipasi kronis / diare, dan hubungan seks anal juga dapat menjadi faktor pemicu timbulnya wasir [2]. Hampir 50% dari penduduk dunia berusia 50 tahun atau lebih pernah terserang penyakit ini [3]. Di Indonesia sendiri prevalensinya diperkirakan mencapai 45% dari usia produktif (20 60 tahun) [4]. Ketika wasir ini telah sampai pada stadium lanjut (stadium III dan IV) maka prosedur penanganan yang efektif adalah dengan jalan operasi (hemorrhoidectomy) [5]. Trauma pasca operasi wasir selama ini dikenal sangat tidak mengenakkan dan menyakitkan serta risiko komplikasi dan infeksi yang cukup tinggi karena besarnya luka yang ditimbulkan. Waktu pemulihan yang dibutuhkan juga relatif lama. Pada tahun 1995, Morinaga memperkenalkan suatu teknik baru untuk pengobatan wasir yang dikenal dengan nama Doppler guided hemorrhoidal artery ligation (DG-HAL) [6]. Ilustrasi teknik ini dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. proctoscope yang digunakan untuk menemukan arteri wasir dalam operasi wasir dengan teknik DG-HAL Inti dari teknik ini adalah mengikat arteri yang mengalirkan darah ke jaringan wasir sehingga jaringan ini mengecil dan akhirnya menghilang. Teknik ini sama efektifnya dengan teknik konvensional dan luka yang ditimbulkan sangat minimal. Setelah menjalani operasi ini pasien dapat langsung beraktifitas secara normal di hari berikutnya. Teknik ini menggunakan proctoscope yang dirancang khusus dan dilengkapi dengan sebuah transduser Doppler untuk menemukan arteri yang menuju ke wasir.