Communnity Development Journal Vol.3, No.2 Juni 2022, Hal.1042-1046 P-ISSN 2721-4990 | E-ISSN 2721-5008 1042 KEBIASAAN BERNEGOSIASI, SALING PERCAYA DAN SALING MEMOTIVASI UNTUK MENCIPTAKAN SUASANA AMAN DAN DAMAI ANTAR SANTRI DI RAHMATAN LIL’ALAMIN INTERNATIONAL ISLAMIC BOARDING SCHOOL Sitti Rizki Mulyani 1 , Selvi Yona Sari 2 , Nia Nadilla 3 1,2,3) Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang e-mail: sitti_rizkimulyani@upiyptk.ac.id Abstrak Banyaknya jumlah Santri yang dimiliki oleh Pondok Pesantren menyebabkan adanya keragaman budaya yang dimiliki Santri tersebut. Hal ini dikarenakan Santri yang ada di Pesantren tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Sumatera Barat saja dengan latar belakang kebudayaan, melainkan banyak juga yang berasal dari wilayah luar Sumatera Barat bahkan hingga luar Sumatra yang tentunya memiliki kebudayaan sesuai dengan daerah asal masing-masing santri. Dengan keberagaman tersebut santri akan sering menemui beberapa hal permasalahan antar sesame, oleh sebab itu santri harus dibekali dengan ilmu negosiasi , saling percaya dan saling memotivasi. Kata kunci: Negosiasi, Saling Percaya, Motivasi dan Santri RLA Abstract The large number of Santri owned by the Islamic Boarding School causes the cultural diversity of the Santri. This is because the Santri in the Islamic boarding school do not only come from the West Sumatra region with a cultural background, but many also come from areas outside West Sumatra and even outside Sumatra which of course have a culture according to the area of origin of each student. With this diversity, students will often encounter several problems between fellow students, therefore students must be equipped with the knowledge of negotiation, mutual trust and mutual motivation. Keywords: Negotiation, Mutual Trust, Motivation and RLA Students PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan Pendidikan dan kebutuhan masyarakat pesantren bemertamorfosis dengan memberikan Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pengetahuan agama namun lebih luas pada misi peningkatan sumber daya santri agar mampu mengahadapi kehidupan luas sesuai dengan tatanan zama (Zamakhsyari Dhofier 2011). Selain sebagai Lembaga Pendidikan yang sudah lama berkembang diIndonesia, pondok pesantren telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga ikut berperan dalam aktif dalam upaya mencerdaskan bangsa ( Depak RI, 2003) Banyaknya jumlah Santri yang dimiliki oleh Pondok Pesantren menyebabkan adanya keragaman budaya yang dimiliki Santri tersebut. Hal ini dikarenakan Santri yang ada di Pesantren tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Sumatera Barat saja dengan latar belakang kebudayaan, melainkan banyak juga yang berasal dari wilayah luar Sumatera Barat bahkan hingga luar Sumatra yang tentunya memiliki kebudayaan sesuai dengan daerah asal masing-masing santri. Proses adaptasi memang mau tidak mau harus dilakukan oleh seorang Santri. Tak terkecuali dengan Santri di Pondok Pesantren RLA. Mereka perlu menyesuaikan dengan lingkungan yang berbeda dari lingkungan asal. Sehingga seiring waktu budaya di lingkungan baru tersebut akan mempengaruhi kehidupan Santri dan menjadi input budaya baru di pikirannya, hal ini turut membentuk perilaku komunikasi mereka. Sebagai Pondok Pesantren yang dihuni oleh para Santri yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, perbedaan komunikasi yang terjadi adalah proses interaksi yang dilakukan oleh para Santrinya yang berlatar belakang kebudayaan berbeda tersebut. Proses interaksi yang dilakukan pastinya menggunakan komunikasi, yang mana komunikasi ini berperan dalam mewujudkan suatu interaksi yang baik antar Santri tersebut. Seiring berkembangnya zaman yang semakin lama semakin canggih, dunia pesantrenpun tidak ketinggalan untuk menciptakan santri-santri yang mempunyai kemampuan lebih. Pesantren