Prosiding Seminar Nasional IV 2018
Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Revolusi Industri 4.0
dan Mendukung Pencapaian Sustainability Development Goals (SDG’s)
ISBN: 978-602-5699-43-6
145
Jenis kotoran mempengaruhi
pertumbuhan?
Sebuah studi pengaruh pupuk
kandang pada tanaman
Shelda Shibror Ridho Ihda, Agus Prianto, Aminatuz Zahroh, Nuril
Anwar, Ahmad Fauzi
Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang
Penulis koresponden
Shelda Shibror Ridho Ihda,
Pendidikan Biologi, FKIP
Universitas Muhammadiyah
Malang
Email:
shelfishelda@gmail.com
ABSTRAK
Pemberian pupuk kandang merupakan usaha yang dapat
dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan berbagai
tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh jenis pupuk kandang terhadap perubahan tinggi
tanaman dan panjang akar tanaman. Tomat dipilih sebagai
subjek penelitian dan pemberian kotoran sapi, ayam, dan
kambing diposisikan sebagai jenis perlakuan yang diberikan.
Setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan. Data hasil
penelitian dianalisis menggunakan uji one-way analysis of
covariance (ANCOVA) dengan uji lanjut least significant
difference (LSD) pada signifikansi 5%. Hasil analisis data
menunjukkan bahwa perbedaan jenis kotoran menyebabkan
perbedaan laju pertumbuhan tanaman, baik pada parameter
tinggi tanaman [F (3,19) = 4,489, p-value < 0,05] maupun
panjang akar [F(3,19) = 4,443, p-value < 0,05]. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa tanaman yang diberi kotoran kambing
secara signifikan lebih tinggi dari tanaman lainnya. Selain itu,
tanaman yang tidak diberi pupuk kandang memiliki akar
terpanjang, namun panjang akar tanaman tersebut tidak
berbeda signifikan dengan tanaman yang diberi kotoran
kambing.
Kata kunci:
Kotoran hewan
Pertumbuhan tanaman
Pupuk kandang
Copyright © 2018 Universitas Muhammadiyah Malang
PENDAHULUAN
Di era saat ini, lahan pertanian
semakin hari semakin mengalami
penurunan kualitas tanah (Karlen & Rice,
2015). Kesuburan tanah secara gradual
mengalami penurunan akibat berbagai
hal, seperti erosi tanah, hilangnya
berbagai nutrien tanah, akumulasi garam
dan elemen toksik lainnya, hingga
ketidakseimbangan nutrien tanah
(Pimentel & Burgess, 2013; Sasmal &
Weikard, 2013; Vallejo, 2014). Terdapat
beberapa penyebab yang bertanggung
jawab akan terciptanya kondisi tersebut,
salah satunya adalah penggunaan
berbagai zat kimia dalam aktivitas
pertanian oleh masyrakat (Karlen & Rice,
2015; Ogbodo, 2013). Oleh karena itu,
untuk mengatasi permasalahan tersebut,
pertanian organik dianjurkan untuk
mulai diterapkan.
Pertanian organik bertujuan untuk
meningkatkan kondisi pertanian yang