Prosiding Seminar Nasional “Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia” 1018 RESISTENSI BAKTERI TERMOFILIK PASCA ERUPSI MERAPI TERHADAP LOGAM BERAT Anna Rakhmawati dan Evy Yulianti Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY, anna_rakhmawati@uny.ac.id, wannawijaya@yahoo.com, 081328076689 Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui resistensi bakteri termofilik pasca erupsi Merapi terhadap logam berat tembaga (Cu), kadmium (Cd), dan timbal (Pb). Isolat bakteri yang digunakan bersumber dari pasir dan air Kali Gendol Atas pasca erupsi Merapi tahun 2010 yang diperoleh dengan metode dilution. Uji resistensi dilakukan menggunakan metode streak pada media Nutrient Agar (NA) plate mengandung Cu, Cd, dan Pb dengan berbagai konsentrasi, kemudian diinkubasi pada suhu 55 0 C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan 19 isolat mampu hidup sampai konsentrasi Cu 30 ppm. Isolat bakteri sebanyak 13 dapat tumbuh dengan konsentrasi maksimal 1 ppm Cd . Sembilan belas isolat bakteri mampu bertahan pada logam Pb dengan konsentrasi 300 ppm. Isolat Thermomicrobium sp D2 mampu tumbuh pada 50 ppm Cu; 1,5 ppm Cd; dan 300 ppm Pb. Kata kunci: resistensi, bakteri termofilik, logam berat PENDAHULUAN Bahaya akibat kontaminasi logam berat di lingkungan merupakan isu menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Tutut et al., (2012: 2) menyatakan logam berat termasuk salah satu bahan pencemar yang bersifat toksik bagi makhluk hidup dan dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Pencemaran oleh logam berat biasanya berasal dari buangan limbah berbagai macam industri seperti industri logam (electroplating), tekstil, baterai, pupuk, industri plastik (PVC), dan pertambangan. Logam berat yang terdapat dalam limbah industri dan berdampak buruk bagi kesehatan misalnya tembaga (Cu), kadmium (Cd), dan timbal (Pb). Hasil penelitian Soetarto,et al., (2013: 3) menunjukkan cemaran logam berat Cu pada beberapa sungai besar di Yogyakarta seperti Sungai Code dan Sungai Gajahwong rata-rata memiliki tingkat cemaran melebihi standar baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, yaitu lebih dari 0,02 mg/L. Sedangkan limbah industri kerajinan perak Kotagede mengandung kadar logam berat Cu 211,27 mg/L. Kadmium (Cd) termasuk logam berat yang sangat berbahaya setelah merkuri (Hg) (Dirayah et al., 2005: 25) Keberadaan logam kadmium (Cd) di lingkungan dapat mengganggu kehidupan organisme karena sifat toksik yang dimilikinya. Logam berat yang terakumulasi di dalam tanah dapat mempengaruhi aktivitas mikroba dan berisiko terhadap kesehatan manusia karena logam tersebut masuk ke dalam rantai makanan (Mohsenzadeh F & Shahrokhi F, 2014: 1). Data Sumber Pencemar yang didapatkan dari Balai Lingkungan Hidup (BLH) tahun 2013 di Kabupaten Sleman, air limbah yang mengandung Pb dihasilkan dari industri