Jurnal Sosial Humaniora Terapan Volume 2 No.2, Januari-Juni 2020 P-ISSN 2622-1764 E-ISSN 2622-1152 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 85 PENGARUH AKREDITASI TERHADAP PROGRAM HAND HYGIENE DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH CIREBON Ari Nurfikri 1 ,Triana Karnadipa 2 1 Program Studi Administrasi Rumah Sakit, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia 2 Program Studi Fisioterapi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia Corresponding Email: arinurfikri@ui.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pelaksanaan program hand hygiene di Rumah Sakit Muham- madiyah Cirebon setelah akreditasi. Metode yang digunakan adalah metode analisis kualitatif, dengan rancangan studi kasus. Kasus penelitiannya adalah kelompok kerja Pencegahan Pengendalian Infeksi yang didalamnya terdapat program hand hygiene yang diukur dari strategi yang efektif, karakteristik or- ganisasi, pengaruh perilaku petugas, pasien, dan pengunjung, serta dukungan anggaran dari manajemen setelah akreditasi. Instrumen penelitian menggunakan panduan wawancara dengan responden berjumlah 4 orang. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa Rumah Sakit Muhammadiyah Cirebon belum memiliki strategi yang efektif dalam membangun budaya hand hygiene. Organisasi Tim Pencegahan Pengendalian Infeksi setelah akreditasi tidak berjalan, sehingga belum ditetapkannya program kerja hand hygiene di Rumah Sakit Muhammadiyah Cirebon. Perilaku petugas dan pasien tingkat kepatuhan cuci tangan masih kurang, dikarenakan penggunaan bahan habis pakai setelah akreditasi masih rendah. Dari segi ang- garan,karena tidak ada program kerja, maka usulan anggaran belanja dari tiap unit tidak menggambarkan kebutuhan program yang mencakup pelatihan, pengadaan bahan habis pakai, dan edukasi baik kepada petugas maupun pasien. Kata kunci: Akreditasi rumah sakit; biaya; cuci tangan ABSTRACT This study aims to measure the implementation of the hand hygiene program at the Muhammadiyah Hospital Cirebon after accreditation. The method used is a qualitative analysis method, with a case study design. The research case is the Infection Control Prevention Working Group in which there is a hand hygiene program implementation will be measured from an effective strategy, organizational characteristics, influence of the behavior of officers and patients and their families, and budget support from post accreditation management. The research instrument used interview guides with 4 respondents. The results of this study indicate that the Muhammadiyah Hospital in Cirebon does not yet have an effective strategy in building a hand hygiene culture. The post-accreditation Infection Control Prevention Team Organization is not running, so a hand hygiene program has not been established at the Muhammadiyah Hospital in Cirebon. The behavior of officers and patients the level of compliance with handwashing is still lacking, due to the use of consumables after accreditation is still low. In terms of the budget, there is no work program, the proposed expenditure budget of each unit does not reflect the need for programs that include training, procurement of consumables, and education for both officers and patients. Keywords: Hospital accreditation; cost; hand hygiene PENDAHULUAN Sejak tahun 2005 WHO telah mem- berikan fokus lebih kepada upaya peningkatan pengendalian infeksi. Mulai dari melakukan edukasi pentingnya hand hygine di semua tingkat pelayanan kesehatan secara global untuk memas- tikan standar yang tinggi dalam pengendalian infeksi WHO melalui Hand Hygiene Self- Assessment Framwork mengundang fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh dunia untuk ber- partisipasi dalam survey di tahun 2011 dan 2015. Pelayanan kesehatan dari seluruh dunia yang sudah teregistrasi akan diminta membuat self- assesment terhadap lima komponen yakni peru- bahan sistem, pendidikan dan pelatihan, evaluasi kinerja dan umpan balik, pengingat di tempat kerja, iklim keselamatan di institusi. Sebanyak 86 pelayanan kesehatan dari 31 negara pada ta- hun 2015 didapatkan terjadi kemajuan dibandingkan 2011 (Kilpatrick et al., 2018). Di seluruh dunia terjadi 1,4 juta infeksi setiap tahun, bila dijabarkan lebih spesifik 10% pasien rawat