Posisi Daya Saing Produk (Dwi Purnomo) 1 POSISI DAYA SAING PRODUK DAN KELEMBAGAAN AGROINDUSTRI HALAL ASEAN Dwi Purnomo 1) , E.Gumbira-Sa’id 2) , Anas M Fauzi 3) , Khaswar Syamsu 3) , Muhammad Tasrif 4) 1) Mahasiswa Program Doktor Teknologi Industri Pertanian –IPB, Dosen FTIP UNPAD. 2) Guru Besar Teknologi Industri Pertanian IPB 3) Dosen dan Peneliti Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB ABSTRACT Indonesia is the largest Muslim population in the world. By establishing Halal-based agro- industry, Indonesia is expected to avoid the status of the largest world’s largest Halal market. Indonesia need to gradually develop its capability as internationally recognized competitive Halal products producer. Malaysia, Thailand and Brunei Darussalam as ASEAN members have been globally recognized as the world’s Halal products hub and building their Halal industry as their main platform of agro-industry development to penetrate international market. High level of competition abounds from both Muslim and non-Muslim nations, including ASEAN members which have been aggressively setting up their industrial estates and marketing their Halal products around the global market. This study observed Halal-based Agro-industry Competitiveness among six ASEAN countries. Quantitative SWOT analysis and Multi Criteria Decision Making (MCDM) analysis were used to find out the details of intrinsic and extrinsic factors in each country. The result showed that Malaysia and Thailand placed as the most advance country among ASEAN countries, while Indonesia placed as number five due to its weakness in some most important intrinsic and extrinsic factors. Keywords: Competitiveness, Halal, Agro-industry, SWOT-Quantitative Analysis 1. PENDAHULUAN 1 Di wilayah Asia Tenggara (ASEAN), Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand merupakan negara-negara yang sangat aktif dalam memanfaatkan peluang pasar Halal global, sedangkan Indonesia meskipun populasi Muslim–nya terbanyak di dunia justru hanya berperan sebagai pasar halal terbesar. Agroindustri Halal ASEAN yang dipelopori oleh Malaysia berkembang sebagai pusat produksi dan pemasaran produk Halal global, yang dilakukan melalui kerjasama antar negara ASEAN atau dikenal sebagai ASEAN Halal-Hub. Di lain pihak, negara-negara non muslim yang sangat kuat sektor peternakannya seperti Australia, Brazil, dan Kanada saat ini telah menjadi pemasok pangan Halal utama dunia untuk produk daging, unggas serta produk peternakan lain dan turunannya dikarenakan telah sadar sepenuhnya akan potensi pasar produk Halal yang ada (Gumbira-Sa’id, 2008). Korespondensi : Dwi Purnomo E-mail : dwighy@yahoo.com Di wilayah ASEAN, Malaysia adalah negara yang paling serius untuk memposisikan diri menjadi pusat makanan Halal-Hub di kawasan Asia dan pelopor dalam globalisasi sertifikasi Halal. Malaysia menjadi negara pertama yang memiliki badan pengelola industi Halal dan cetak biru yang memberikan tujuan jelas dan pedoman dalam industri Halal-nya. Pemerintah Malaysia aktif memberikan insentif, skema atau hibah serta fasilitas lain yang didedikasikan untuk mengembangkan industri Halal (Bidin, 2009). Di lain pihak, berbagai negara di Asia dan Eropa, bahkan Australia dan Selandia Baru secara agresif mengambil peluang pasar produk Halal, dan menjadikan Indonesia sebagai pasar utamanya. Pasar produk Halal Indonesia adalah salah satu tujuan pasar bagi beragam produsen pangan Halal impor yang dipasarkan di Indonesia, khususnya pada hypermarket dan supermarket besar, antara lain meliputi produk pangan fungsional, produk pangan siap saji, produk bahan tambahan makanan, kosmetik dan bahan- baku industri. Beragam produk yang