Prosiding Seminar Hasil Penelitian (SNP2M) 2018 (pp.172-179) 978-602-60766-4-9 Bidang Ilmu Teknik Sipil & Keairan, Transportasi, Dan Mitigasi Bencana 172 ANALISIS NUMERIK KELONGSORAN LERENG SISI JALAN AKIBAT HUJAN Studi Kasus Keruntuhan Lereng Sisi Jalan Poros Sungguminasa-Sinjai, Km 109 Makassar Muhammad Suradi 1) , Agus Setyo Muntohar 2) , Farid Nur Bathi 3) 1) Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 3) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT Every year during the rainy season, rainfall-induced failures of roadside slopes frequently occur in some parts of connecting roads among districts through hilly areas in South Sulawesi, Indonesia. These occurrences particularly endanger people on the roads, people living next to the slopes and distract traffic fluency through the roads. This research aimed at determining main factors triggering the slope failures. One of the sites, a main road connecting between Sungguminasa and Sinjai (both district cities), Km 109 from Makassar (capital city of South Sulawesi Province), was chosen as this research location. Field and laboratory soil testing were conducted to obtain soil parameters required to perform the analyses of the slope failure mechanisms. Rainfall data from the closest rain gauge station to the site were also collected to consider in the analyses. Numerical analyses using commercial software SV Flux coupled with SV Slope were performed to examine the slope failures triggered by rainstorms. The analyses revealed that a particular stratification of surface soils with silt layer (changing its thickness with the slope level, thicker layer into the slope crest) overlying clay layer existing at the roadside slope greatly contribute to the slope failure. Keywords: numerical analyses, rainfall, infiltration, slope failure, stratification of soils, connecting road 1. PENDAHULUAN Kelongsoran lereng menjadi salah satu dari bencana alam paling sering terjadi di dunia diantara yang lainnya seperti: angin taufan, banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi dan tsunami (Alcantara-Ayala, 2002). Keruntuhan lereng ini sering terjadi selama musim hujan dan telah dipahami secara luas bahwa hujan merupakan faktor pemicunya. Pada dekade terakhir ini (2003 – 2010), kelongsoran lereng akibat hujan telah menunjukkan peningkatan dan tahun 2010 merupakan tahun terparah dengan korban meninggal dunia sebanyak 6211 orang yang disebabkan oleh 494 kelongsoran lereng akibat hujan dari seluruh penjuru dunia. Keruntuhan lereng sangat berbahaya khususnya jika kejadiannya dekat infrastruktur umum seperti kelongsoran lereng sisi jalan. Kejadian ini dapat membahayakan masyarakat yang bermukim di sekitar lereng bahkan kadangkala menyebabkan korban meninggal dunia dan seringkali mengganggu kelancaran lalu lintas jalan di sisi lereng tersebut yang menyebabkan kerugian ekonomi. Banyak studi yang berkaitan dengan kelongsoran lereng akibat hujan seperti yang dilakukan oleh Brand et al. (1984) dan Rahardjo et al. (2007), telah menunjukkan kontribusi faktor-faktor penyebab kelongsoran lereng tersebut. Berdasarkan studi ini, kita dapat membagi 2 kelompok besar faktor penyebab kelongsoran lereng yaitu: hujan sebagai faktor pemicu dan karakteristik lereng sebagai faktor potensial. Hal ini lebih jauh menunjukkan bahwa hampir seluruh kelongsoran lereng dipicu oleh hujan ekstrim (deras dan/atau berkepanjangan). Kelongsoran lereng dangkal merupakan kejadian yang sangat umum selama musim hujan (Guzzetti et al., 2008). Sudah dipahami secara luas bahwa hujan awal berkontribusi besar terhadap kelongsoran lereng tanah dengan permeabilitas rendah tetapi berkontribusi kecil terhadap kelongsoran lereng tanah dengan permeabilitas tinggi (Rahardjo et al., 2008). Brand et al. (1984) secara khusus menunjukkan bahwa kelongsoran lereng di Hong Kong umumnya dipicu oleh hujan keras yang umumnya berdurasi singkat., sementara kelongsoran lereng di Singapura umumnya disebabkan oleh hujan intensitas rendah berkepanjangan (Rahardjo et al.(2007). Hal ini berkaitan dengan umumnya tanah lereng berpasir di Hong Kong yang cenderung merespon cepat hujan karena permeabilitasnya tinggi dan daya tampung airnya kecil. Sebaliknya lereng di Singapura umumnya dari tanah berlempung atau berlanau yang memiliki respon lambat terhadap curah hujan. Sehubungan dengan interaksi hujan dengan tanah lereng, setiap kelongsoran lereng memiliki karakteristik khusus mekanisme kelongsorannya. Terdapat karakteristik khusus faktor penyebab yang 1 Korespondensi penulis: Muhammad Suradi, Telp 081524002000, msuradi@poliupg.ac.id brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Portal E-Journal System PNUP (Politeknik Negeri Ujung Pandang)