JIEP-Vol. 19, No 1, Maret 2019 ISSN (P) 1412-2200 E-ISSN 2548-1851 37 PERDAGANGAN KOPI VIETNAM DAN INDONESIA DI EMPAT NEGARA TUJUAN EKSPOR KOPI UTAMA: PENERAPAN MODEL CONSTANT MARKET SHARE Eko Atmadji 1 , Unggul Priyadi 2 , Siti Achiria 3 1 Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Indonesia 2 Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Indonesia 3 Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Indonesia Email: eko@uii.ac.id, unggul.priyadi@uii.ac.id, siti.achiria@uii.ac.id Abstract Vietnam and Indonesia dominate the world coffee trade, beside Brazil and Columbia. Coffee exports of these two countries are dominated by robusta coffee. The demand for robusta coffee increases along with the increasing the role of modern coffee makers and baristas in processing robusta coffee. This study employs Constant Market Share as a tool of analysis. The results of Constant Market Share calculations show that Vietnamese coffee and Indonesian coffee are still unable to compete with Arabica coffee. This can be seen from the effect of negative competitiveness for the coffee of the two countries. However, the results of calculating the effects of commodity composition, Vietnamese and Indonesian coffee are favored by coffee importers in the United States, Germany, Italy and Japan. In number of export value, Vietnamese coffee left behind Indonesian coffee in the United States, Germany and Italy. However, in Japan, Vietnamese and Indonesian coffee could not dominate each other. For Indonesia, Japan is the only major importer of coffee in the world that is expected to break the dominance of Vietnamese coffee. Nevertheless, the hope will get a considerable challenges from Japan and domestic itself. Keywords: International Trade, Export Coffee, Constant Market Share, Vietnam and Indonesia. JEL Classification: F14, Q1 1. PENDAHULUAN Budaya minum kopi dalam tiga pu- luh tahun terakhir tumbuh amat pesat. Bu- daya minum kopi gelombang pertama yaitu minum kopi sebagai kegiatan pribadi beru- bah menjadi acara minum kopi sebagai ke- giatan sosial yaitu minum kopi bersama te- man-teman di kedai kopi modern. Minum kopi sebagai kegiatan sosial merupakan budaya minum kopi gelombang kedua di mana kedai kopi modern menjadi tempat berkumpul (Pendergrast, 2010). Kedai ko- pi modern ini menyediakan aneka macam kopi yang diracik secara khusus oleh para barista (peracik kopi modern). Ada hal yang berubah karena adanya gelombang baru ini yaitu meningkatnya permintaan kopi robusta. Di tangan para barista, kopi robusta diolah menjadi berbagai macam minuman kopi yang disukai peminum ko- pi. Mesin-mesin pengolah kopi modern maupun keahlian para barista dalam me- ngolah kopi menjadikan aroma dan rasa kopi robusta menjadi disukai. Situasi ini membuat Indonesia seba- gai negara penghasil kopi robusta dunia yang penting sejak lama, dapat meningkat- kan volume ekspornya. Namun demikian, negara lain yang dapat memanfaatkan kon- disi ini dengan lebih baik adalah Vietnam. Negara ini menjadi penghasil kopi robusta dunia yang penting dimulai sejak dekade 1990an. Sudah sejak awal abad ke 20, jum- lah produksi kopi robusta Indonesia selalu berada di peringkat pertama dunia. Brazil dan Kolombia hanya fokus pada kopi ara- bika. Posisi Indonesia menjadi peringkat kedua produsen dan eksportir kopi robusta setelah Vietnam masuk daftar produsen dan eksportir kopi robusta terbanyak di du- nia dengan cara yang sensasional dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Perbe- daan volume ekspor kopi antara Vietnam dan Indonesia semakin lama semakin be- sar. Dimulai tahun 1997 dimana volume ekspor kopi Vietnam dan Indonesia hampir brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan