Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN 1693-4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta, 25 April 2019 Jurusan Teknik Kimia, FTI, UPN “Veteran” Yogyakarta K11 - 1 Pembuatan Bahan Pengemas Alami dari Serat Nanas dan Serat Pandan dengan Pati Sagu sebagai Perekat Berman Ifolala Harefa, Muhammad Masyum Gilang Permana, Adi Ilcham * Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, UPN ”Veteran” Yogyakarta Jl. Padjajaran 104 (Lingkar Utara), Condongcatur Yogyakarta 55283 * E-mail: adi_ilcham@upnyk.ac.id Abstract The polymer such as styrofoam is a populer material for packaging. However, nowadays, the environmental issues of the polymer espescially styrofoam are very worrying.. Therefore it is need an alternative material for substitution the styrofoam. An idea to obtain another type for packaging is fabricating an alternative material using natural fibre as named natural packaging materials (BPA, bahan pengemas alami). In this paper, it will be discussed the fabricating of material for substitution styrofoam. The fiber used in this study comes from pineapple and pandanus leaves which are easily available. The leaves supplied from Subang, West Java and Kulon Progo, Yogyakarta. In the experiment, firstly fibers were mixed with starch then printed in certain size. Furthermore, BPA was tested for its properties based on tensile and compressive strength. In this study the effect of mixing materials on tensile and compressive strength of BPA was examined. The results show that the tensile and compressive strength of BPA with pineaple fibre based are higher than BPA with pandanus fiber based. The tensile and compressive strength are higher than 24,7 N/mm 2 and 1,59 N/mm 2 respectively, higher than the requirement of National Standard (SNI) for styrofoam. Keywords: fibre, packaging, pandanus, pineaple, styrofoam Pendahuluan Kebutuhan hidup manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Di antara kebutuhan itu adalah pembungkus makanan berupa styrofoam yang terbuat dari polimer polistirena. Karena sifatnya yang ringan dan mudah dibentuk, styrofoam sering digunakan sebagai pembungkus bahan-bahan kebutuhan manusia seperti barang-barang elektronik bahkan sebagai wadah sementara makanan siap saji. Akan tetapi, penggunaan bahan- bahan turunan polimer saat ini mulai dikurangi karena dapat meimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan. Dengan alasan dampak lingkungan perlu digagas bahan lain pengganti styrofoam. Para ilmuwan telah melakukan sejumlah percobaan sehingga menghasilkan bahan yang dikenal dengan biofoam. Pencampuran pati dan bahan lain menghasilkan bahan yang memiliki kemampuan mengembang atau berekspansi. Fenomena ekspansi pati kemudian mendorong para peneliti untuk memanfaatkan pati menghasilkan biofoam berbentuk butiran atau sering disebut dengan loose fill foam atau peanut foam (Lacourse dan Altieri, 1989). Sebagian peneliti mencampurkan 70% pati dengan plastik dan menggunakan ekstruder untuk memperoleh biofoam (Shogen et al., 2002). Peneliti lain membuat biofoam dari pati jagung dengan menambahkan plastisizer, agen pendispersi dan kompatibilizer serta cross linking agent (Iriani, 2013). Sebuah ide lain pengganti styrofoam adalah membuat bahan pengemas alami (BPA). Untuk itu BPA harus memiliki karakteristik seperti mudah dibentuk, ringan, tahan terhadap air, dapat menahan suhu panas maupun dingin, serta harga produksinya cukup murah. Selain itu, kemasan alternatif tersebut haruslah bersumber dari bahan baku yang mudah didapat dan harganya murah. Oleh karena itu pada tulisan ini digagas pembuatan BPA yang terbuat dari serat daun pandan dan serat daun nenas dengan perekat pati. Serat daun nanas (pineappleleaf fibres) adalah salah satu jenis serat yang berasal dari tanaman nanas (Ananas Cosmosus). Pengambilan serat daun nanas pada umumnya dilakukan pada usia tanaman berkisar antara 1 sampai 1,5 tahun. Untuk mendapatkan serat yang kuat, halus dan lembut perlu dilakukan pemilihan pada daun-daun nanas yang pertumbuhannya sebagian terlindung dari sinar matahari. Serat daun nanas mempunyai sifat mekanik yang unggul karena mengandung selulosa yang tinggi (72-82%). Serat dapat diambil dari daun nanas dengan cara perendaman dengan kuat tarik serat 413 Mpa dan modulus Young 6,5 Gpa (Uma et al., 2010). Komposisi lain dari serat nanas adalah α-selulosa sebanyak 68,5-71% dan hemiselulosa 18,8% serta lignin 6,04 % (Eriningsih dkk, 2009).