19
AGRITEXTS: Journal of Agricultural Extension, 46(1), 19-26, 2022
URL: https://jurnal.uns.ac.id/agritexts/article/view/61451
DOI: https://doi.org/10.20961/agritexts.v46i1.61451 ISSN 2721-5903 (Print) 2721-5911 (online)
Copyright © 2022 Universitas Sebelas Maret
Strategi Penghidupan Berkelanjutan Masyarakat Berbasis Aset dalam Budidaya Serai
Wangi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas
Asset-Based Community Sustainable Livelihood Strategy in the Cultivation of Fragrant
Lemongrass in Kedungrandu Village, Patikraja Sub-district, Banyumas Regency
Muhammad Arief Hidayat
, Budi Darmawan dan Dindy Darmawati Putri
Program Studi Magister Agribisnis, Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
*
Corresponding author: aryactivities@gmail.com
Abstract
The aims of the study is to find out the sustainable livelihood strategy of asset-based communities in Kedungrandu
Village, Patikraja Sub-district, Banyumas Regency. This research uses quantitative descriptive methods.
The population in this study is a fragrant lemongrass farmer from Kedungrandu Village, with a total of 40 people.
The data collection method uses the census method of 40 fragrant lemongrass farmers. Data analysis uses
descriptive statistics. The results showed that the livelihood strategy of fragrant lemongrass farmers includes three
strategies: intensification/extensification, diversification and migration. The livelihood strategy implemented
by most of their farmers depends on agricultural activities (47.5%), some depend on livestock, fisheries, services,
trade and employee activities or diversification (27.5%) and a small percentage (25%) depends on migration
activities. The value of the level of livelihood capital of fragrant lemongrass farmers in Kedungrandu Village,
namely human capital, natural capital, physical capital, financial capital and social capital is classified as
a moderate level of sustainability. Therefore, efforts are needed to improve the quality of livelihood capital of
fragrant lemongrass farmers to the maximum at a high level of sustainability.
Keywords: fragrant lemongrass; livelihood capital; strategy
Abstrak
Tujuan penelitian untuk mengetahui strategi penghidupan berkelanjutan masyarakat berbasis aset di Desa
Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah petani serai wangi Desa Kedungrandu dengan jumlah 40 orang.
Metode pengumpulan data menggunakan metode sensus terhadap 40 orang petani serai wangi. Analisis data
menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penghidupan petani serai wangi
meliputi tiga strategi yaitu intensifikasi/ekstensifikasi, diversifikasi dan migrasi. Strategi penghidupan yang
diterapkan sebagian besar petani adalah dengan menggantungkan hidupnya pada aktivitas pertanian (47,5%),
sebagian lagi menggantungkan hidupnya pada aktivitas peternakan, perikanan, jasa, perdagangan dan karyawan
atau diversifikasi (27,5%), dan sebagian kecil (25%) menggantungkan hidupnya pada aktivitas migrasi. Nilai
tingkat modal penghidupan petani serai wangi di Desa Kedungrandu yaitu modal manusia, modal alam, modal
fisik, modal finansial dan modal sosial tergolong pada tingkat keberlanjutan sedang. Oleh karena itu perlu upaya
meningkatkan kualitas modal penghidupan petani serai wangi secara maksimal pada tingkat keberlanjutan tinggi.
Kata kunci: modal penghidupan; serai wangi; strategi
PENDAHULUAN
Indonesia termasuk negara penghasil minyak
asiri dan minyak ini juga merupakan komoditas
yang menghasilkan devisa negara, minyak asiri
mendapat perhatian yang cukup besar dari
pemerintah Indonesia (Setyawan et al., 2013).
Cite this as: Hidayat, M. A., Darmawan, B., & Putri, D. D. (2022). Strategi Penghidupan Berkelanjutan
Masyarakat Berbasis Aset dalam Budidaya Serai Wangi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja,
Kabupaten Banyumas. AGRITEXTS: Journal of Agricultural Extension, 46(1), 19-26. doi:
http://dx.doi.org/10.20961/agritexts.v46i1.61451
Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan dua
belas jenis minyak asiri yaitu: minyak cengkeh,
minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar
wangi, minyak pala, minyak kayu putih, minyak
serai wangi, minyak jahe, minyak lada, minyak
cendana, minyak kemukus dan minyak masoi.
Dari dua belas jenis minyak asiri ini terdapat