Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9 (1) Januari 2022 DOI: 10.33603/deiksis.v9i1.6117 (p-ISSN 2355-6633, e-ISSN 2548-5490) 83 Rifa Nurafia, Lily Tjahjandari: Konstruksi Spiritualitas Tokoh Utama dalam Adaptasi Novel ke Film Rembulan di Wajahmu (2019) Konstruksi Spiritualitas Tokoh Utama dalam Adaptasi Novel ke Film Rembulan di Wajahmu (2019) Rifa Nurafia 1)* , Lily Tjahjandari 2) rifanurafia@gmail.com 1,2) Departemen Ilmu Susastra, Universitas Indonesia Abstrak. Spiritualitas sebagai sebuah kepercayaan sering kali sulit dipaparkan secara nyata bentuknya. Dalam upaya mengungkapkan spiritualitas, film sering dianggap sebagai media yang tepat karena memvisualisasikan sebuah kejadian yang hampir mirip dengan kehidupan nyata. Salah satu film yang bertema ajaran agama dan spiritualitas yakni film Rembulan Tenggelam di Wajahmu produksi Max Picture yang diadaptasi dari novel berjudul sama Tere Liye. Dalam proses adaptasi tersebut, terdapat perubahan latar yang dilakukan sutradara. Perubahan tersebut menimbulkan gambaran berbeda antara novel dan film dalam aspek spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kontruksi spiritualitas tokoh utama dalam merefleksikan keadilan takdir. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teori adaptasi J Dudley Andrew dan konsep spiritualitas Viktor Frankl. Hasil analisis menemukan bahwa perubahan variasi latar dari novel ke film memengaruhi kontruksi spiritualitas tokoh utama yakni membentuk perenungan diri. Perubahan tersebut membuat hadirnya spiritualitas tokoh utama tergambar dengan pencarian jati diri dan pemaknaan hidup. Proses adaptasi memberikan gambaran aspek spiritualitas membangun refleksi keadilan takdir sebagai wujud membimbing diri untuk menerima hidup serta aktualisasi diri terhadap kepercayaan yang dianut. Spiritualitas membangun refleksi keadilan takdir dengan kesadaran atas keberadaan diri tokoh utama yang tidak memiliki kuasa apapun atas kehidupannya. Kata kunci: adaptasi, spiritualitas, keadilan takdir, aktualisasi. Pendahuluan Spiritualitas adalah keadaan atau pengalaman yang dapat memberi individu arah atau makna. Selain itu, spiritualitas dapat memberikan keterikatan perasaan pengertian, dukungan, keutuhan batin atau keterhubungan pada sesuatu. Keterkaitan bisa dengan diri sendiri, orang lain, alam semesta, dewa, atau kekuatan supernatural lainnya (Dehaghi, 2012). Spiritualitas dalam KBBI edisi V versi daring dipaparkan sebagai sebuah sumber dan emosi pencarian individu yang berkaitan dengan hubungan dirinya dan Tuhan. Magunwijaya (2002) berpendapat juga bahwa spiritualitas merupakan konsep keagamaan yang akan memunculkan sikap religius seseorang. Spiritualitas berkaitan dengan kepercayaan pada yang Maha Kuasa, kepercayaan itu bergantung pada masing-masing individu. Senada dengan itu, Nurcholis (2003) juga memaparkan bahwa spiritualitas menjadi bagian dari naluri seseorang untuk berkeyakinan dan berkomitmen dengan kepercayaan yang dianutnya. Dengan demikan, spiritualitas mengarah pada keyakinan dan hubungan individu dengan Tuhan yang Maha Kuasa atau sesuatu yang diyakini sebagai kepercayaan. Spiritualitas sebagai sebuah kepercayaan sering kali sulit dipaparkan secara nyata bentuknya. Spiritualitas sebagai bentuk yang sulit dideskripsikan terus diupayakan tersampaikan maknanya dalam segala media. Sebagai sebuah keadaan dan pengalaman individu, spiritualitas sering kali diproduksi dan menjadi bahasan dalam tema sastra. Seperti yang diungkapkan Rozak (2012) dalam tulisannya menyebutkan bahwa spiritualitas dalam sastra menjadi bagian yang mengungkapkan segi-segi universal kemanusiaan. Dalam hal ini, Rozak (2012) menjelaskan spiritualitas menjadi bagian keberagaman dalam memenuhi kebutuhan ragawi dan rohani.