153 Heni Purwaningsih et al.: Produksi, Karakteristik Fisik, dan Organoleptik Varietas Unggul Spesifk Lokasi “Srikayang” Daerah Istimewa Yogyakarta ... Produksi, Karakteristik Fisik, dan Organoleptik Varietas Unggul Spesifk Lokasi “Srikayang” Daerah Istimewa Yogyakarta (Production, Physical, and Organoleptic Characteristics of Superior Varieties Specifc Location “Srikayang” Special Region of Yogyakarta) Heni Purwaningsih, Kristamtini, Muhammad Fajri, Siti Dewi Indrasari, dan Endang Wisnu Wiranti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Jln. Stadion Maguwoharjo No. 22, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Indonesia 55584 E-mail: heny_yk@yahoo.com Diterima: 15 Mei 2020; direvisi: 28 Agustus 2020; disetujui: 30 September 2020 ABSTRAK. Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura semusim yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif di Kabupaten Kulon Progo. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui produksi, karakteristik fsik, dan organoleptik bawang merah lokal Kabupaten Kulon Progo, yaitu varietas Srikayang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas lokal Srikayang memiliki keunggulan dibanding varietas eksisting lainnya, yaitu Tajuk, Bima, dan Siem. Hasil ubinan tertinggi varietas Srikayang 10,63 ton/ ha. Varietas Srikayang memiliki, berat umbi 5,47 g sedangkan Tajuk 3,65 g, Bima 5,69 g, dan Siem 4,14 g. Jumlah umbi per rumpun verietas Srikayang lebih banyak dibanding varietas lain, yaitu 9,82 g, Tajuk 8,37 g, Bima 6,78 g, dan Siem 9,37 g. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa varietas Siem dan Srikayang tidak berbeda nyata. Jumlah umbi per rumpun tertinggi varietas Srikayang 50,03 g. Kecerahan umbi varietas Srikayang tertinggi sebesar 43,74 dibanding varietas lainnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa varietas lokal Srikayang layak dibudidayakan karena memiliki keunggulan dibanding varietas lain (Tajuk, Bima, dan Siem). Kata kunci: Karakteristik fsik; Organoleptik; Srikayang; Varietas lokal ABSTRACT. Shallot is one of the leading commodities of horticultural crops that have long been cultivated by farmers intensively at Kulon Progo Regency since long time. The aim of research was to know the production, physical and organoleptic characteristics of local shallot at Kulon Progo Regency, namely Srikayang variety. The experimental design used Completely Randomized Block Design (CRBD) with fve replications. The results showed that local variety of Srikayang have advantages compared to other existing varieties namely Tajuk, Bima, and Siem. Srikayang variety hads a weight tuber of 5.47 g, while Tajuk 3.65 g; Bima 5.69 g; and Siem 4.14 g. Total of tubers per clump Srikayang more than other varieties that was 9.82 Tajuk; 8.37, Bima, 6.78 and Siem 9.37. The results of statistical analysis show that Siem and Srikayang were not signifcantly diferent. Srikayang had highest of total of bulb was 50.03 g and yield was 10.63 tonnes/ha. The brightness of Srikayang was the highest 43.74 compared to other varieties. Srikayang variety had the highest panelist acceptance value of 3.33 means that this variety was favored based on the result of organoleptic test. From the result of research it can be concluded that Srikayang decent cultivated because it hads moreadvantages compared to other varieties (Tajuk, Bima, and Siem). Keywords: Physical characteristics; Organoleptic; Srikayang; Local variety Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang tergolong sayuran rempah. Bawang merah merupakan tanaman semusim yang termasuk klasifkasi tumbuhan berumbi lapis atau siung yang bersusun (Firmansyah & Bhermana 2019). Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, baik ditinjau dari sisi pemenuhan konsumsi nasional, sumber penghasilan petani, maupun potensi sebagai penghasil devisa negara. Bawang merah berperan penting dalam perdagangan sehingga bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang paling penting untuk dikembangkan. Selain itu bawang merah juga mengandung gizi seperti fosfor, besi, kalsium, protein, lemak, dan minyak atsiri sehingga lebih banyak digunakan untuk menambah cita rasa masakan serta bahan ramuan obat tradisional. Bawang merah selain sebagai bumbu penyedap masakan (Risfaheri et al. 2019) juga berperan penting dalam hal kesehatan (Darmawidah et al. 2010). Bawang merah mengandung quercetin, saponin, isorhamnetin, dan glikosida yang dapat menurunkan kadar kolesterol total serta kadar kolesterol-LDL, yang menghambat sekresi apolipoprotein B, serta menurunkan aktivitas Microsomal Triaglyceride Transfer Protein (MTP) yang berperan dalam pembentukan lipoprotein dengan menganalisis perpindahan lipid ke molekul Apo dalam pembentukan lipoprotein dengan menganalisis perpindahan lipid ke molekul Apo B (Fattoruso 2002; Casaschi 2002 dalam Winarso, Rusita & Yunianto 2016). Di Indonesia, tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) banyak dibudidayakan di daerah dataran rendah yang beriklim kering dengan