347 ZIRAA’AH, Volume 45 Nomor 3, Oktober 2020 Halaman 347-353 p-ISSN 1412-1468 e-ISSN 2355-3545 PENGARUH TINGKAT KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN GENERATIF KULTIVAR KACANG TUNGGAK (Vigna unguiculata L) (The influence of drought level on generative growth of cowpea cultivars (Vigna unguiculata L) Zulipah Mahdalena Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani Banjarmasin Email: sz.mahdalena@gmail.com Article Submitted: 05-09-2020 Article Accepted : 23-09-2020 ABSTRACT This study aims to determine the effect of the interaction between cowpea cultivars and level of water dryness. This Research is a field experiment, which is arranged for a randomized block design, with two factors, cowpea cultivar and level of water dryness. Cowpea cultivars contents of ten levels, that is Arab, Kuning, Papan, Padi, KT -1, KT-2, KT-4, KT-6, KT-7, KT- 8, and Level of water dryness content of 100 % field capacity, 65% field capacity, and 30 % field capacity. The Parameters observed were the age of the plant to start flowering, the dry weight of the upper plant, the number of pods per plant, the number of pods contained in each plant. The results showed that the level of water dryness affected the dry seed weight of the plant, the age at which flowering began, the number of pods contained in the plant, and the dry weight of the upper plants. The interaction between the level of water dryness and cultivar had a significant effect on the number of pods plants, whereas cultivars affect the sucrose content. Keywords: cowpea, cultivars, levels of water dryness. PENDAHULUAN Kacang tunggak (Vigna unguiculata L) merupakan tanaman setahun yang tumbuh merambat, buahnya berbentuk polong dengan biji berbentuk bulat panjang, berwarna merah tua, hitam atau putih dan mempunyai kelekukan ditengahnya (andarwulan dan Hariyadi,2005). Selain toleran terhadap kekeringan, kacang tunggak juga mampu mengikat nitrogen dari udara. Potensi hasil kacang tunggak cukup tinggi yaitu mencapai 1,5 – 2 ton/ha. (Balitkabi, 2006). Kacang tunggak berpotensi sebagai sumber protein nabati . Kadar protein kacang tunggak setara dengan kacang hijau atau kacang gude. Bahkan kadar vitamin B1 nya lebih tinggi dibandingkan dengan kacang hijau, dan memiliki kadar asam amino metionin yang tinggi. Secara umum konsumsi protein penduduk Indonesia termasuk kurang, maka perlu upaya meningkatkan bahan pangan sumber protein. Jenis kacang kacangan potensial dikembangkan menjadi produk yang bergizi dan sesuai selera masyarakat (Handajani, 1994). Salah satu upaya yang penting untuk meningkatkan produksi tanaman kacang kacangan yang merupakan salah satu sumber protein nabati adalah dengan perluasan areal tanam pada lahan kering yang dominan di Kalimantan Selatan. Kendala yang terpenting pada lahan kering adalah menyangkut ketersediaan air pada musim kemarau, yang sering menyebabkan cekaman kekeringan. Penelitian Taufik Rizal (2004), melaporkan bahwa dari 3 kultivar kacang Nagara dan 2 kultivar kacang tunggak menunjukan perbedaan tanggapan terhadap kekeringan. Kultivar