AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 7, No. 2 Tahun 2019 WISATA TELAGA NGEBEL KABUPATEN PONOROGO TAHUN 1993-2000 AGIL WAHYU SAPUTRO Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya Email: agilwahyu91@gmail.com Septina Alrianingrum S1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya Abstrak Pada TAP No. IV/MPR/1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara menjadikan Indonesia memulai proses menuju industri pariwisata. Sektor pariwisata menjadi urutan keenam pembangunan setelah pertanian, industri, pertambangan, energi dan prasarana. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo belum membuat kebijakan dan khususnya Telaga Ngebel belum terdapat pengelolaan dan pemeliharaan terhadap potensi pariwisata dari Telaga Ngebel. Partisipasi masyarakat dirasa sangat penting dalam proses pengembangan pariwisata Telaga Ngebel dan mulai terlihat tahun 1993. Pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel oleh Dinas Pariwisata Kabupaten dimulai tahun 1998. Pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel menjadi berkorelasi antara Dinas Pariwisata Kabupaten. Rumusan penelitian ini adalah 1) Bagaimana pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 19932000 2) Bagaimana partisipasi masyarakat di sekitar obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 19932000. Penelitian sejarah ini menggunakan empat tahap yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Tahap pertama yakni heuristik, terdapat dua sumber yang digunakan adalah sumber primer dan sumber sekunder. Kritik intern didapatkan dari heuristik berasal dari semua sumber. Tahap interpretasi, supaya sumbersumber yang diperoleh menjadi lebih bermakna saling berhubungan atau menunjang. Historiografi merupakan suatu bentuk untuk menyajikan hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengembangan pariwisata telah memenuhi beberapa unsur kepariwisataan, seperti atraksi, infrastruktur, dan akomodasi. Potensi pariwisata di Kabupaten Ponorogo mulai dioptimalkan, khususnya obyek wisata Telaga Ngebel memiliki keindahan alam, makanan, dan peristiwa budaya yaitu larung sesaji yang diadakan setiap tahun sekali. Pengembangan pariwisata menjadi tolak ukur dari segi pertumbuhan sarana dan prasarana pendukung pariwisata akan mengikuti peningkatan jumlah wisatawan. Potensi pariwisata terus dioptimalkan di obyek wisata Telaga Ngebel sebagai perhatian utama Dinas Pariwisata Kabupaten. Sementara partisipasi masyarakat mulai terlihat tahun 1993 dengan dimulai membuat keramba dan membuka usaha berdagang. Adanya hal ini mulai diikuti masyarakat lain di tahun tahun berikutnya. Seorang tokoh masyarakat setempat di tahun 1995 dengan berani mengusulkan bahwa mulai ditetapkan harga masuk di obyek wisata Telaga Ngebel. Pada tahun 1998 Dinas Pariwisata Kabupaten mengambil alih pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel dengan tetap terjadi koordinasi dengan masyarakat sekitar obyek wisata Telaga Ngebel. Koordinasi menimbulkan fungsi sebagai hubungan timbal balik yang meliputi aspek sosial dan politis. Kedua pihak bekerja sama dengan memperoleh kesepakatan. Hasil kesepakatan bertujuan untuk menjaga keamanan dan menarik retribusi bagi setiap wisatawan yang datang ke obyek wisata Telaga Ngebel. Kata Kunci: Pariwisata, Telaga Ngebel, Partisipasi Masyarakat Abstract TAP No. IV/MPR/1978 concerning the Broad Outlines of State Policy making Indonesia begin the process towards the tourism industry. The tourism sector becomes a sequence of development after agriculture, industry, mining, energy and infrastructure. The Regional Government of Ponorogo Regency hasn’t made a policy especially for Ngebel Lake, there is no management and maintenance of the tourism potential of Ngebel Lake. Community’s participation is very important related to the process of developing Ngebel Lake tourism, and it began to be seen in 1993. Ngebel Lake tourism object was developed by the Regency Tourism Office began in 1998. The management and maintenance of Ngebel Lake tourism became correlated with the Regency Tourism Office. The formulation of this research is 1) How to develop Ngebel Lake tourism object in 1993–2000 2) How’s the community’s participation around Ngebel Lake tourism object in 19932000. This historical research uses four specific steps,they are heuristics, verification, interpretation, and historiography. The first step is heuristics, there are two sources used in the study. Both sources are primary sources and secondary sources. The step of internal criticism was derived from heuristics, from all sources. The third is interpretation, so that the resources obtained becomes more meaningful, interconnected and supportive. The step of historiography, which present the results of a research report. Based on the results of the analysis of this study, tourism development has fulfilled several elements of tourism. Such as attractions, infrastructure, and accommodation. Tourism potential in Ponorogo Regency starts to be optimized,