Volume 1 (1) November 2013 PUBLIKA budaya Halaman 64-78 1. Pendahuluan Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki rasa saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lain, akibatnya mereka pun saling berinteraksi. Menurut Bloomfield (dalam Sumarsono, 2007:18), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota masyarakat Fakultas Sastra Universitas Jember 64 Bebetho Frederick Kamsiadi, Bambang Wibisono, Andang Subaharianto Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Jember Jalan Kalimantan 37 Jember 68121 Telp./Faks. 0331-337422 Email: bebeto_frederick@yahoo.com ISTILAH-ISTILAH YANG DIGUNAKAN PADA ACARA RITUAL PETIK PARI OLEH MASYARAKAT JAWA DI DESA SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG (KAJIAN ETNOLINGUISTIK) THE TERMS USED IN RITUAL CEREMONY OF PETIK PARI BY PEOPLE OF JAVA IN SUMBERPUCUNG AT MALANG REGENCY (THE ETNOLINGUISTICAL STUDY) ABSTRACT The purpose of this research was to discribe and explain form value and the use of terms that used in ritual ceremony of petik pari by people of Java in Sumberpucung at Malang Regency. The Dewi Sri figure became a symbol and thought guidance to people of java, especially famer of java in the cycle life procession, among others mariage, house treatment and farm field. There for they carried out the petik pari tradition that had several steps in the process. The first step was nyiapne weneh, that consist of kowen, ngekum pari and ngentas pari. The second step was bukak lahan, that consist of tamping, ngisi banyu, mbrojol, mopok, nglawet, nggaru and ndhadhag. The third step was tandur, that consist of ndhaut, nas atau geblake dina, ngerek and tandur. The fourth step was ngrumat, it consist of lep, kokrok, ngemes and matun. The fifth step was petik pari, that consist of uborampen, sega ingkung, sega gurih, sega tumpeng or sega gunungan, sega golong, iwak, kulupan, gedhang raja, bumbu urap and cok bakal that countain bumbu pepek, wedhi, dhedhek lembut, kaca, suri, wedhak, janur kuning, kembang telon, menyan, dhuwit receh and badhek. The sixth step was panen, that consist of ngerit, nggeblok, nyilir, nampeni and ngiteri ghabah. The terms that existed in every steps experinced meaning generalisation, meaning degeneralisation and didn't meaning inalteration. Etnolinguistical analysis in the research was to compare the agricultural terms that used by people of Java in Sumberpucung at Malang Regency with agricultural terms that used by peoplo of Madura at Jember Regency. Keywords: etnolinguistic, petik pari tradition, terms ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk, makna, dan penggunaan istilah-istilah yang digunakan pada ritual petik pari oleh masyarakat Jawa di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup yaitu perkawinan, memperlakukan rumah dan tanah pertaniannya. Untuk melaksanakan tradisi petik pari terdapat beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut antara lain, nyiapne weneh terdapat istilah kowen, ngekum pari dan ngentas pari; bukak lahan terdapat istilah tamping, ngisi banyu, mbrojol, mopok, nglawet, nggaru dan ndhadhag; tandur terdapat istilah ndhaut, nas atau geblake dina, ngerek dan tandur; ngrumat terdapat istilah lep, kokrok, ngemes dan matun; petik pari terdapat istilah uborampen, sega ingkung, sega gurih, sega tumpeng atau sega gunungan, sega golong, iwak, kulupan, gedhang raja, bumbu urap dan cok bakal yang berisi bumbu pepek, wedhi, dhedhek lembut, kaca, suri, wedhak, janur kuning, kembang telon, menyan, dhuwit receh dan badhek; dan panen terdapat istilah ngerit, nggeblok, nyilir, nampeni dan ngiteri ghabah. Istilah-istilah yang terdapat dalam setiap tahapan tersebut mengalami perluasan makna, penyempitan makna dan tidak mengalami perubahan makna. Analisis etnolinguistik dalam penelitian ini membandingkan istilah pertanian yang digunakan masyarakat Jawa di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang dengan istilah pertanian yang digunakan masyarakat Madura di Kabupaten Jember. Kata Kunci: etnolinguistik, tradisi petik pari, istilah