Jurnal Sosialisasi Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian, dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Vol. 9, Nomor 3, November 2022 Lia Amelia, Khairul Fahmi, Sopian Tamrin | 139 Konstruksi Makna Cantik bagi Remaja Perempuan Pengguna Pemutih Kulit Ilegal Lia Amelia 1 , Khairul Fahmi 2 , Sopian Tamrin 3 1,2, Departemen Sosiologi Universitas Negeri Padang, 3 Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Makassar liaamelia@fis.unp.ac.id 1 , Khairul_fahmi@fis.unp.ac.id 2 , sopiantamrin@unm.ac.id 3 ABSTRACT Kulit putih dan bersinar menjadi salah satu standar kecantikan ideal yang merujuk dari beberapa selebgram dan beauty vloggger di berbagai media sosial, sehingga banyak remaja perempuan yang ingin mengubah warna kulit alaminya untuk mendapatkan warna kulit yang didambakan. Obsesi berkulit putih membuat remaja perempuan menggunakan cara yang sepadan seperti memakai produk pemutih ilegal yang belum terbukti aman dari segi ilmiah. Penelitian ini dilakukan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat dengan informan sebanyak 14 orang yang terdiri dari remaja perempuan pengguna pemutih kulit ilegal dengan usia 14-16 tahun dan keluarga informan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis tentang alasan remaja perempuan mendambakan kulit yang putih. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan tipe etnografi, dan penulusuran informan penelitian menggunakan teknik snowball. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) dan pengamatan (observasi). Sebelum wawancara, setiap informan di berikan atau dibacakan informant sheet yang berisi informasi tentang penelitian (fokus, tujuan, manfaat, resiko, metode dan etika). Analisis data menggunakan reduksi data Bungin dengan cara membuat ringkasan, mengkode, menentukan tema, membuat alur dengan tujuan memperoleh data yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan mengkontruksikan makna cantik adalah memiliki kulit putih. Berkulit putih dapat menunjang penampilan fisik agar memudahkan mereka bergaul, memilih outfit yang pas, serta mendapatkan pengakuan dalam lingkungan sosialnya. Keywords: kulit putih, produk pemutih, remaja ABSTRACT Many celebgrams and beauty vloggers on various social media refer to fair skin as one of the ideal beauty standards, therefore many adolescent girls wish to change their natural skin color to get the skin tone complexation preferences. As a result, most of teenage girls utilize similar methods like using illegal whitening products that have not been scientifically proven as safe products due to their preoccupation with being white. This research examined 14 informants, teenage girls who used illegal skin whitening at the ages of 14 and 16 and their families, in Bukittinggi, West Sumatra. The objective of this research is to analyze the reasons why teenage girls obsess with fair skin. The approach used is qualitative with an ethnographic type, and the research of informants was using the snowball technique. Also, deliberate observations and in-depth interviews were used to get the data. Each informant received and read an informant sheet with details about the study prior to the interview (focus, objectives, benefits, risks, methods, and ethics). To get the necessary data, data analysis uses Bungin data reduction by constructing summaries, coding, identifying themes, and making charts. The findings demonstrated that teenage realized that having radiant white skin was what made one beautiful. It can be simpler for those who have fair complexion could get along easily, dress appropriately, and gain an acceptance in their communities. Keywords: Adolescent, Fair skin, Whitening products PENDAHULUAN Kulit putih kerap menjadi standar kecantikan seorang perempuan. Konsep warna kulit ini mengemuka diberbagai masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Konsep cantik di Indonesia telah banyak mengalami perubahan dimana pandangan ideal perilahal perempuan