JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 10, No. 2 (2021), 2337-3520 (2301-928X Print) G171 AbstrakPandemi yang terjadi saat ini menjadikan sistem pembelajaran mulai dilakukan secara daring sehingga tingkat okupansi Gedung Sekolah menurun. Penurunan tingkat okupansi Gedung Sekolah menyebabkan penurunan efisiensi yang mana pada tahap pembangunannya telah mengkonsumsi banyak energi dan material. Berdasarkan dari pendekatan yang digunakan yaitu sustainable building, yang mana berfokus pada bagaimana bangunan dapat bertahan lama, perlu untuk mempertahankan tingkat okupansi bangunan. Salah satu caranya dengan mengalihfungsikan Gedung Sekolah untuk kegiatan lain, yang mana membutuhkan peran dari fleksibilitas ruang. Jika saja sebelum pandemi Sekolah telah dirancang lebih fleksibel, maka memungkinkan untuk Sekolah dapat beralihfungsi ke program lain tanpa mengalami perombakan yang signifikan sehingga tingkat okupansi Gedung Sekolah dapat dipertahankan. Objek rancang berupa SMA swasta dengan sistem day school yang dapat beralihfungsi menjadi Temporary Community Centre saat pembelajaran dilakukan secara daring dengan menerapkan konsep fleksibilitas ruang, yaitu adaptable dan transformable. Community Centre merupakan program yang terbentuk dari kumpulan aktivitas warga di sekitar lahan Sekolah yang terjadi saat pandemi dan bersifat temporer sehingga program Community Centre akan menghilang saat pandemi berakhir. Dalam proses transformasinya, metode irisan ruang digunakan untuk menghasilkan ruang baru yang dapat memfasilitasi kedua tipologi, sehingga saat beralihfungsi masing-masing tipologi dapat berfungsi secara optimal. Dengan adanya peralihan fungsi Sekolah menjadi Community Centre, menjadikan Gedung Sekolah tetap berfungsi secara optimal pada saat pandemi berlangsung, di sisi lain juga dapat memfasilitasi aktivitas warga sekitar lahan Sekolah di saat pandemi. Kata KunciPandemi, Sustainable Building, Irisan Ruang, Adaptable, Transformable. I. PENDAHULUAN LEKSIBILITAS dalam ranah arsitektur dimaknai sebagai kemampuan memodifikasi fisik bangunan untuk mendukung adanya perubahan terhadap bagian bangunan yang didasarkan pada kebutuhan user [1]. Pentingnya penerapan fleksibilitas pada bangunan didasari oleh teori Shearing Layer tentang different rate of change (Brand, 1994), yang mengatakan bahwa bangunan terdiri dari sekumpulan lapisan dengan rentang masa hidup yang berbeda, yaitu Site, Structure, Skin, Service, Space plan dan Stuff (Gambar 1), yang mana setiap layer tidak independen [2]. Perubahan pada salah satu layer akan mempengaruhi layer lain, sehingga dapat menurunkan efisiensi energi dan material. Penerapan fleksibilitas pada bangunan memberikan kemudahan untuk melakukan perubahan pada salah satu bagian bangunan tanpa merombak bagian bangunan lainnya sehingga meningkatkan efisiensi energi dan material [1]. Penerapan fleksibilitas pada bangunan menjadi sangat penting dalam kondisi saat ini. Pandemi menjadikan sistem pembelajaran mulai dilakukan secara daring sehingga tingkat okupansi Gedung Sekolah menurun. Penurunan tingkat okupansi Gedung Sekolah menyebabkan penurunan efisiensi yang mana pada tahap pembangunannya telah mengkonsumsi banyak energi dan material [3]. Berdasarkan dari pendekatan yang digunakan yaitu sustainable building, yang mana berfokus pada bagaimana bangunan dapat bertahan lama, perlu untuk mempertahankan tingkat okupansi bangunan [4]. Salah satu cara untuk mempertahankan tingkat okupansi Gedung Sekolah yaitu dengan mengalihfungsikan Gedung Sekolah untuk aktivitas selain kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun peralihan fungsi ruang menyebabkan perubahan pada beberapa bagian bangunan, yaitu space plan, stuff, dan service berkaitan dengan fungsi bangunan, serta skin berkaitan dengan perubahan kualitas spasial. Sehingga peran fleksibilitas ruang dibutuhkan agar ruang dapat bertransformasi dari satu program ke program lain tanpa membuat banyak perubahan. Jika Gedung Sekolah pada Penerapan Konsep Adaptable dan Transformable pada Peralihan Fungsi Sekolah Saat Pandemi Virgine Jocela Indiari dan Endy Yudho Prasetyo Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: endy_yudho_prasetyo@arch.its.ac.id F Gambar 1. Lapisan bangunan menurut teori Shearing Layer. Gambar 2. Diagram setting waktu. Gambar 3. Lokasi lahan di Jalan Basuki Rachmat, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.