SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 18 No. 2, Juli 2021 | 141 PEMODERNAN ATAP RUMAH TRADISIONAL JAWA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL Andi Prasetiyo Wibowo Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. andi.prasetiyo@uajy.ac.id ABSTRAK Pelestarian kearifan lokal di bidang arsitektur diharapkan mampu memberi kontribusi dalam menjaga keberlangsungan keberagaman budaya nusantara. Rumah sebagai produk warisan arsitektur tradisional mempunyai banyak tantangan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebagai bagian dari bangunan rumah, atap mengambil peran yang sangat signifikan dalam menentukan langgam atau gaya bangunan. Kita dapat mengetahui asal/lokasi rumah tradisional di Indonesia dari bentuk atapnya. Bahkan di beberapa budaya di Indonesia, bentuk atap rumah bahkan mempunyai peran untuk menunjukkan status/tingkatan sosial penghuninya. Proses adaptasi dan modifikasi bentuk rumah tradisional diharapkan mampu menjaga kelestarian kearifan lokal. Salah satu studi kasus yang akan dipaparkan pada makalah ini yaitu rumah tinggal di perumahan Hyarta Residence, Yogyakarta. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pendekatan analisis kualitatif dengan melakukan studi observasi lapangan dan studi literatur. Penelitian akan difokuskan pada bagian atap dengan aspek yang diteliti terdiri dari bentuk, fungsi dan material yang digunakan. Data-data hasil pengamatan dan kajian literatur kemudian diolah dan dibuat analisis deskriptif berupa penjelasan mengenai bentuk atap, fungsi dan bahan struktur rangka penutup atap dalam rangka menjaga kelestarian kearifan lokal. Dari hasil kajian yang dilakukan, diketahui bahwa upaya pelestarian kearifan lokal, khususnya bentuk atap rumah tradisional jawa, bisa dilakukan dengan penggunaan material bahan pengganti yang lebih modern selama tidak mengubah bentuk dan fungsi komponen bangunan. KATA KUNCI: atap, rumah tradisional jawa, baja ringan, kearifan lokal PENDAHULUAN Kearifan lokal, dalam hal ini di bidang arsitektur, mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan kelestarian budaya nusantara (Soedigdo, Harysakti, & Usop, 2014). Kajian ilmiah mengenai rumah tradisional seperti yang telah dilakukan oleh Hidayat (2018) pada Rumah Ulu Ogan di Sumatera Selatan perlu dilakukan lebih banyak lagi dalam upaya mengidentifikasi dan menjaga produk warisan arsitektur tradisional. Proses menjaga lokalitas tersebut dapat dilakukan dengan mempertahankan konsep struktur rumah tradisional ketika merancang dan merencanakan hunian sebagai tempat tinggal (Wilhelmus Dominikus Kapilawi & Murti Nugroho, 2015). Selain konsep struktur, elemen- elemen arsitektural dan ragam hias ornamen dari sebuah rumah tinggal juga dapat dijadikan sarana dalam proses tersebut (Widianingtias, Pramudito, & Cahyandari, 2020). Rumah tradisional, sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara, melalui beberapa studi yang telah dilakukan, ternyata juga mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang sering kita hadapi sampai saat ini. Sebagai contoh, bagaimana konsep struktur yang berasal dari kearifan lokal mampu membuat bangunan bertahan dan sedikit mengalami kerusakan ketika terjadi gempa (Triyadi & Harapan, 2008). Tidak hanya terbatas pada bangunan rumah, penerapan konsep kearifan lokal pada bangunan-bangunan publik seperti bangunan pemerintah, bank, hotel (Rahmansah & Rauf, 2014; Saladin, Budi Purnomo, & Tundono, 2018), dan lain sebagainya diharapkan mampu memberi dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang nantinya juga berdampak pada pembentukan wajah/ciri wilayah setempat. Proses renovasi, revitalisasi, ataupun konservasi bangunan dapat dijadikan alternatif dalam mempertahankan kearifan lokal (Messakh, 2014). Rumah sebagai objek arsitektural mempunyai identitas yang dapat diketahui dari tampilannya. Arsitek mempunyai tugas yang tidak mudah dalam membuat perencanaan atap yang nantinya berfungsi tidak hanya sebagai pelindung namun juga harus mempertimbangkan estetika yang dapat mendukung p-ISSN: 1411-8912 e-ISSN: 2714-6251 http://journals.ums.ac.id/index.php/sinektika