BIODIVERSITAS ISSN: 1411-4402
Volume 4, Nomor 2 Juli 2003
Halaman: 133-145
R E V I E W:
Ekosistem Mangrove di Jawa: 1. Kondisi Terkini
Mangrove ecosystem in Java: 1. recent status
AHMAD DWI SETYAWAN
1,2
, KUSUMO WINARNO
1,2
, PURIN CANDRA PURNAMA
1
1
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
2
Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
Diterima 15 Desember 2002. Disetujui 15 Januari 2003.
ABSTRACT
Mangrove ecosystem is a specific ecosystem that only take about 2% of total land in the earth. Indonesian mangrove
ecosystem is the widest in the world and as a center of distributioan and ecosystem biodiversity, however it undergoes
rapid and dramatic destruction. In just 11 years, between 1982-1993, more than 50% of Indonesian mangrove disappeared.
The most factor threatening the mangrove ecosystem is human activities, including convertion to aquaculture, deforestation,
and environmental pollution. Other factors such as reclamation, sedimentation, and natural disturbance are also contributed
to the disappearance of the mangrove. Mangrove ecosystem is very important in term of socio-economic and ecology
functions. Because of its functions, wide range of people alaways paid attention whenever mangrove restoration taken
place. Mangrove restoration potentially increases mangrove resource value, protect the coastal area from destruction,
conserve biodiversity, fish production and both of directly and indirectly support the life of surrounding people.
© 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words: mangrove, restoration, management, Java.
PENDAHULUAN
Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa
Melayu manggi-manggi dan bahasa Arab el-gurm
menjadi mang-gurm, keduanya sama-sama berarti
Avicennia (api-api), pelatinan nama Ibnu Sina,
seorang dokter Arab yang banyak mengidentifikasi
manfaat obat tumbuhan mangrove (Jayatissa et al.,
2002; Ng dan Sivasothi, 2001). Sedang menurut
MacNae (1968) kata mangrove merupakan
perpaduan bahasa Portugis mangue (tumbuhan laut)
dan bahasa Inggris grove (belukar), yakni belukar
yang tumbuh di tepi laut. Kata ini dapat ditujukan
untuk menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau
komunitas (FAO, 1982; Ng dan Sivasothi, 2001).
Hutan mangrove atau mangal adalah sejumlah
komunitas tumbuhan pantai tropis dan sub-tropis
yang didominasi tumbuhan bunga terestrial
berhabitus pohon dan semak yang dapat menginvasi
dan tumbuh di kawasan pasang surut dengan
salinitas tinggi (MacNae, 1968; Chapman, 1976;
Tomlinson, 1986; Nybakken, 1993; Kitamura et al.,
1997). Dalam bahasa Indonesia hutan mangrove
disebut juga hutan pasang surut, hutan payau, rawa-
rawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering
digunakan adalah hutan mangrove atau hutan bakau
(Kartawinata, 1979). Namun untuk menghindari
kesalahan literasi dianjurkan penggunaan istilah
mangrove karena bakau adalah nama generik
anggota genus Rhizophora (Widodo, 1987).
Komunitas mangrove tersusun atas tumbuhan,
hewan dan mikroba, namun tanpa hadirnya tumbuh-
an mangrove komunitas ini tidak dapat disebut eko-
sistem mangrove (Jayatissa et al., 2002). Vegetasi
mangrove berperan besar dalam ekologi ekosistem
ini, dimana tumbuhan mangrove mayor merupakan
penyusun utamanya (Lugo dan Snedaker, 1974;
Hamilton dan Snedaker, 1984; Tomlinson, 1986).
Identifikasi komposisi vegetasi mangrove merupakan
prasyarat untuk memahami semua aspek struktur dan
fungsi mangrove, sebagaimana kondisi biogeografi,
konservasi dan manajemennya (Jayatissa et al., 2002).
Ekosistem mangrove merupakan kawasan ekoton
antara komunitas laut dengan pantai dan daratan,
sehingga memiliki ciri-ciri tersendiri (Dahuri et al.,
1996). Komunitas ini sangat berbeda dengan
komunitas laut, namun tidak berbeda tajam dengan
komunitas daratan dengan terbentuknya rawa-rawa
air tawar sebagai zona antara. Tomlinson (1986)
mengklasifikasikan vegetasi mangrove menjadi:
mangrove mayor, mangrove minor dan tumbuhan
asosiasi. Tumbuhan mangrove mayor (true
mangrove) sepenuhnya berhabitat di kawasan
pasang surut, dapat membentuk tegakan murni,