Jatisukamto, dkk. Analisis Pengaruh Vane Terhadap Karakteristik Distribusi Tekanan Airfoil Double-Slotted Flap | 92 Jurnal Elemen Volume 4 Nomor 2, Desember 2017 ISSN 2442-4471 (cetak) ISSN 2581-2661 (online) ANALISIS PENGARUH VANE TERHADAP KARAKTERISTIK DISTRIBUSI TEKANAN AIRFOIL DOUBLE-SLOTTED FLAP PESAWAT N2XX Gaguk Jatisukamto 1* , Mirna Sari 2* , Gembong Djoni Putranto 3 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Jember, Jl. Kalimantan 37, Jember, 2 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Jember, Jl. Kalimantan 37, Jember, 68121 3 Staf Pegawai PT. Dirgantara Indonesia, Jl. Padjajaran 154, Bandung, 40174 Email: gagukjt@gmail.com Naskah diterima: 03 Desember 2017 ; Naskah disetujui: 28 Desember 2017 ABSTRAK Kestabilan pesawat terbang ditentukan oleh disain airfoil sayap dan ekor. Perbedaan aliran udara antara permukaan atas dan bawah airfoil menghasilkan perbedaan tekanan sehingga menyebabkan gaya angkat (lift) pada sayap. Perbedaan tekanan udara pada permukaan sayap dinyatakan dengan pressure coefficient (cp), yaitu perbedaan tekanan statik lokal dengan tekanan statik aliran bebas. Koefisien lift (Cl) adalah rasio antara gaya angkat (lift) dengan tekanan dinamis. Peningkatan angka Cl sebesar 20,4% pada riset sebelumnya diperoleh berdasarkan simulasi penambahan flap. Penelitian ini bertujuan menganalis flap dengan menambahkan vane (double slotted flap). Metodologi penelitian dilakukan dengan simulasi Computational Fluid Dynamic (CFD). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perubahan koefisien lift dari kedua airfoil tidak terlalu signifikan, dimana perubahan pada bagian bawah trailing edge relatif kecil. Penambahan vane akan menambah tekanan positif pada bagian bawah airfoil sehingga menambah gaya angkat (lift). Kata Kunci: Cp, vane, double slotted flap, airfoil, CFD PENDAHULUAN Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari perairan, selat dan lautan, dimana diantara pulau-pulau nusantara merupakan satu kesatuan utuh. Perairan, selat, dan lautan adalah pemersatu dari belasan ribu pulau- pulau di Indonesia. Letak geografis negara berada diantara: Pulau Rondo hingga Merauke, Pulau Miangas hingga Pulau Deli, Pulau Sekatung hingga Pulau Ndana [1]. Indonesia berpredikat sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau. Luas wilayah Indonesia seluruhnya 5,2 juta km 2 , terdiri dari 1,9 juta km 2 daratan dan 3,3 juta km 2 lautan. Indonesia terbentang disepanjang 3.977 mil diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi Indonesia yang terletak diantara dua benua dan dua samudera berpengaruh besar terhadap kebudayaan, sosial, dan ekonomi masyarakatnya. Indonesia memiliki tiga sistem gunung api, yaitu Sirkum Mediterania, Sirkum Pasifik dan Sirkum Lingkar Australia. Faktor geografis Indonesia menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi sumber daya alam sangat besar, tetapi juga rawan bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan tsunami [2]. Pesawat terbang merupakan sarana utama untuk mewujudkan program penerbangan perintis. Pemerintah terus berupaya mengembangkan penerbangan perintis karena masih belum menjangkau seluruh wilayah negara. Penerbangan perintis menjadi tumpuan strategis integrasi nasional untuk menghubungkan daerah terpencil di seluruh Indonesia [3]. PT Dirgantara Indonesia sebagai pabrik pesawat sipil dan militer dituntut untuk senantiasa mengembangkan dan memproduksi pesawat terbang yang handal dan dapat mendukung jalur penerbangan perintis di Indonesia. Pesawat terbang dengan kapasitas kurang dari 50 penumpang sangat sesuai dengan kapasitas penumpang kategori penerbangan perintis. Kestabilan pesawat terbang tergantung pada disain airfoil sayap dan ekor. Perbedaan kecepatan aliran udara bagian atas dan bawah airfoil memberikan gaya angkat pada pesawat terbang. Analisis distribusi tekanan dengan variasi sudut serang = 10 o -16 o pada profil NACA 0012 melalui uji wind tunel kecepatan rendah. Hasil penelitian meunujukkan karakteristik distribusi tekanan, bahwa kehilangan gaya angkat (stall) terjadi pada α=16 o [4]. Pengaruh penambahan vane diamati dengan mengsimulasikan aliran pada airfoil slotted flap (airfoil tanpa vane pada double slotted flap) menggunakan metode Vorteks. Penambahan flap pada airfoil menunjukkan koefisien lift plain flap lebih besar 20,4% dibandingkan tanpa flap. Penambahan flap dapat meningkatkan nilai koefisien lift [5-6]. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh penambahan vane yang dipasang pasa double slotted flap terhadap tekanan airfoil pesawat N2XX.