JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(2), Juli 2020, 353-358 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat universitas Batanghari Jambi ISSN 1411-8939 (Online) | ISSN 2549-4236 (Print) DOI 10.33087/jiubj.v20i2.940 353 Hubungan Stigma Gangguan Jiwa dengan Perilaku Masyarakat Pada Orang dengan Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Karya Wanita Pekanbaru Usraleli 1 , Dedek Fitriana 2 , Magdalena 3 , Melly 4 , Idayanti 5 1,3,4,5 Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Riau 2 Mahasiswa Program Studi DIV Keperawatan Poltekkes Kemenkes Riau Correspondence email: usraleli@pkr.ac.id Abstrak. Stigma merupakan salah satu faktor penghambat dalam penyembuhan penderita gangguan jiwa. Banyak masyarakat bersikap tidak baik pada penderita gangguan jiwa dan masyarakat tidak begitu menghiraukan penderita gangguan jiwa. Pemahaman masyarakat mengenai gangguan jiwa sangatlah minim, hal ini menyebabkan penderita mendapatkan sikap yang tidak menyenangkan dari masyarakat dan dari keluargasendiri. Tujuannya untuk mengetahui hubungan stigma gangguan jiwa dengan perilaku masyarakat pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)di wilayah kerja Puskesmas Karya Wanita RW 07 Pekanbaru Tahun 2019. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 68 KK responden dengan kriteria sampel yang telah ditetapkan. Instrumen pada penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian ini adanya hubungan yang signifikan antara stigma gangguan jiwa dengan perilaku masyarakat pada ODGJ dalam pengetahuan dan sikap masyarakat. Pengetahuan erat kaitanya dengan stigma terhadap ODGJ (ρ value = 0,013 dan OR = 0,067). Artiya masyarakat yang memiliki stigma gangguan jiwa yang negatif mempunyai peluang 0,067 kali untuk mempunyai pengetahuan buruk pada ODGJ. Sikap erat kaitanya dengan stigma terhadap ODGJ (p value = 0,017 dan OR = 9,2). Artinyamasyarakat yang memiliki stigma gangguan jiwa negatif mempunyai peluang 9,2 kali untuk mempunyai sikap buruk pada ODGJ. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stigma gangguan jiwa dengan perilaku masyarakat pada orang dengan gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Karya Wanita RW 07 Pekanbaru Tahun 2019. Disarankan kepada pihak puskesmas untuk meningkatkan sosialisasi mengenai sikap dan penanganan awal ganggun jiwa kepada masyarakat. Kata kunci: Gangguan jiwa; pengetahuan; sikap; stigma Abstract. Stigma is one of the inhibiting factors in healing people with mental disorders. Many people do not behave well in people with mental disorders and the public does not care about people with mental disorders. Community understanding of mental disorders is very minimal, this causes sufferers to get unpleasant attitudes from the community and from their own families. The aim was to find out the relationship between the stigma of mental disorders and community behavior in people with mental disorders (ODGJ) in the work area of KaryaWanita Community Health Center RW 07 Pekanbaru in 2019. The design of this study was descriptive analytic withaapproach cross sectional with a sample of 68 respondents with criteria that were has been established. The instrument in this study was a questionnaire. The results of this study have a significant relationship between the stigma of mental disorders and community behavior in ODGJ in people's knowledge and attitudes. Knowledge is closely related to stigma towards ODGJ (ρ value = 0.013 and OR = 0.067). The meaning of the community that has a negative stigma of mental disorder has a chance of 0.067 times to have bad knowledge on ODGJ. The attitude is closely related to stigma towards ODGJ (p value = 0.017 and OR = 9.2). That meanspeople who have the stigma of negative mental disorder have a chance 9.2 times to have a bad attitude towards ODGJ. It was concluded that there was a significant relationship between the stigma of mental disorders and community behavior in people with mental disorders in the work area of Karya Wanita RW 07 Pekanbaru in 2019. It was recommended to the puskesmas to improve socialization regarding the attitude and initial handling of mental disorders to the community. . Keywords: Mental disorders; knowledge; attitude; stigma PENDAHULUAN Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Keadaan seseorang dikatakan sehat jiwa apabila mampu mengendalikan diri dalam menghadapi stresor di lingkungan sekitar dengan selalu berpikir positif dalam keselarasan tanpa adanya tekanan fisik dan psikologis, baik secara internal maupun eksternal yang mengarah pada kestabilan emosionaal. Kondisi perkembangan yang tidak sesuai pada individu disebut gangguan jiwa (UU No.18 tahun 2014). Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stres dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya. Gangguan emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh serta menghasilkan sensasi organik dan kinetis. Emosi yang tidak terkontrol sangat mempengaruhi aktivitas seperti tidak dapat berfikir