Page | 414 BLUE SUKUK: STRATEGI DAN KONSEP PEMBIAYAAN Muhammad Noor Direktorat Jenderal Pajak Alamat Korespondensi: muhammadnoor.91@gmail.com INFORMASI ARTIKEL Diterima Pertama [05 12 2022] Dinyatakan Diterima [28 12 2022] KATA KUNCI: Blue Sukuk, Ekonomi Biru, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Ijarah KLASIFIKASI JEL: H1, O23, P35 ABSTRACT Blue economy has substantial correlation with one of the sustainable development goals pillar, ocean ecosystem. Indonesia that is the biggest archipelago country in the world which has the second longest coastline has opportunity to escape from the middle-income trap by using blue economy. Projects that have important role in developing the ocean ecosystem need to be financed, and one of the financing instruments is sukuk (Islamic bond). Sukuk that used to finance ocean ecosystem projects is known as blue sukuk. This study aims to analyze alternative projects that can be financed using the instrument and strategy to make blue sukuk can be accepted globally. This research is using a qualitative method. Data that is used in this research is secondary data obtained from DJPPR, IDX, SDGs National Secretary, and related journals. Research is performed using descriptive study. This study finds that financing concepts with blue sukuk can be implemented to all projects in ocean ecosystem SDGs. Moreover, modified ijarah structure in blue sukuk and fully independent SPV is a strategy to make this instrument acceptable for all mazhab. ABSTRAK Ekonomi biru memiliki hubungan substantial dengan salah satu pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), yaitu ekosistem lautan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia memiliki kesempatan untuk terlepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah dengan memanfaatkan ekonomi biru. Proyek-proyek yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekosistem lautan tentunya memerlukan pendanaan, dan salah satu intrumen pendanaan tersebut adalah sukuk. Sukuk yang digunakan untuk membiayai sejumlah proyek terkait ekosistem lautan dikenal dengan sebutan sukuk biru (blue sukuk). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proyek-proyek alternatif yang dapat dibiayai menggunakan instrumen tersebut dan strategi untuk membuat sukuk biru dapat diterima secara global. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari DJPPR, IDX, Sekretariat Nasional SDGs, dan jurnal-jurnal terkait. Penelitian dilakukan menggunakan studi deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa konsep pembiayaan menggunakan sukuk biru dapat diimplementasikan terhadap seluruh proyek yang ada dalam ekosistem lautan TPB. Selain itu, struktur ijarah yang dimodifikasi dalam sukuk biru dan penggunaan SPV yang sepenuhnya independen merupakan strategi untuk membuat instrumen ini dapat diterima oleh seluruh mazhab dunia.