Jurnal “ ruang “ VOLUME 16 NOMOR 1 Maret 2022 (ISSN : 2085-6962) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tadulako 51 Desain Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Berbasis Tumbuhan Air Hias, Horizontal Sub Surface Flow Constructed Wetland Abdul Gani Akhmad 1 , Rosmiaty Arifin 2 , Iwan Setiawan Basri 3 Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tadulako Palu. Email : gani9367@yahoo.co.id ABSTRAK Studi ini bertujuan mengevaluasi kinerja Horizontal Subsurface Flow Constructed Wetland (HSSF-CW) skala percontohan yang memanfaatkan tumbuhan air hias Typha angustifolia dan media pasir-kerikil halus dalam menyisihkan total coliform dan TSS dari air limbah rumah sakit. Tiga cell HSSF-CW skala percontohan berukuran 1.00 x 0.45 x 0.35 m 3 diisikan media pasir kerikil berdiameter 5 – 8 mm setinggi 35 cm dengan kedalaman media terendam 0.30 m. Terdapat 3 perlakuan yakni cell pertama (CW1) tanpa tanaman, cell kedua (CW2) ditanami dengan kerapatan 12 tanaman Typha angustifolia, dan cell ketiga (CW3) ditanami dengan kerapatan 24 tanaman Typha angustifolia. Ketiga cell HSSF-CW menerima beban air limbah yang sama dengan kandungan total coliform dan TSS masing-masing 91000 MPN/100 mg dan 53 mg/L dengan Laju Pemuatan Hidrolik 3.375 m 3 per hari. Air limbah diresirkulasi secara kuntinyu untuk mencapai equivalen kebutuhan luasan ideal HSSF-CW. Hasil eksperimen menunjukkan kinerja CW3 lebih efisien dibanding CW1 dan CW2 dalam penyisihan total coliform dan TSS air limbah rumah sakit. Efisiensi penyisihan polutan pada CW3 mencapai 91.76% untuk total coliform dengan waktu retensi hidrolik 1 hari serta 81.00% untuk TSS dengan waktu retensi hidrolik 2 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah sistem HSSF-CW yang menggunakan media pasir-kerikil berdiameter 5 – 8 mm dengan kedalaman media terendam 0.30 m dan ditanami tumbuhan air hias Typha angustifolia dengan jarak tanam lebih rapat terbukti lebih efisien dalam menyisihkan total coliform dan TSS dari air limbah rumah sakit. Kata Kunci : constructed wetland, Typha angustifolia, media pasir-kerikil, air limbah rumah sakit. PENDAHULUAN Kehadiran rumah sakit dengan kompleksitas kegiatannya diharapkan tidak menambah beban negatif berupa pencemaran lingkungan. Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 7 Tahun 2019 telah diatur tentang keharusan rumah sakit memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan hasil pengolahan air limbah yang memenuhi standar kualitas. Faktanya, beberapa hasil peneliti melaporkan rendahnya kinerja IPAL beberapa rumah sakit di Indonesia (Mallongi, 2018; Harlisty, Akili, & Kandou, 2016; Amouei et al., 2015; Kusuma, Yanuwiadi, & Laksmono, 2013; Amouei et al., 2012; Rahmawati & Azizah, 2005). Kinerja IPAL rumah sakit di Palu juga dilaporkan rendah, dimana konsentrasi total coliform dan TSS dari efluen IPAL rumah sakit masih melampaui standar kualitas (Akhmad et al., 2020). Penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pengolahan air limbah berbasis tumbuhan air, Constructed Wetland (CW), saat ini mendapat perhatian di negara-negara maju dan berkembang. CW adalah ekosistem buatan yang dirancang dengan memanfaatkan interaksi yang kompleks antara media pendukung, makrofit, dan mikroorganisme untuk mengolah hampir semua jenis air limbah. CW dianggap sebagai teknik hijau dan berkelanjutan yang membutuhkan input energi lebih rendah, biaya operasional dan pemeliharaan lebih sedikit dan menambah nilai estetika (Kumar and Dutta, 2019). CW tipe Horizontal Sub Surface Flow (HSSF-CW) lebih sesuai untuk rumah sakit karena kelebihannya dapat dijadikan taman. Indonesia dengan iklimnya yang tropis, berbagai jenis tumbuhan air tumbuh subur sepanjang tahun (Noor, 2007), oleh karena itu HSSF- CW berpeluang dijadikan teknologi alternatif pengolahan air limbah rumah sakit di Indonesia. Horizontal Sub Surface Flow Constructed Wetland (HSSF-CW) biasanya menghasilkan efluen yang rendah bahan organik dan padatan tersuspensi. Namun untuk penyisihan E. coli, sistem ini cocok dikombinasikan dengan teknologi lain, seperti desinfeksi klorin atau ultra-violet (Headley et al., 2013), hanya saja praktek didesinfeksi dengan bahan kimia seperti klorin dapat menciptakan masalah kesehatan dan ekologi lebih lanjut karena pembentukan trihalometana (Toscano et al., 2013), juga desinfeksi UV tidak selalu sesuai untuk desinfeksi limbah dari HSSF-CW karena perkembangan lapisan seperti biofilm pada bola