D D Moniharapon, A M Ukratalo, B Wisnanda E-ISSN : xxxx - xxxx 12 RPBJ | Rumphius Pattimura Biological Journal Vol 1 | No 1 | Maret | 2019 RUMPHIUS PATTIMURA BIOLOGICAL JOURNAL Vol 1, No 1, 2019, pp 012 – 017 E-ISSN : xxxx - xxxx AKTIVITAS BIOLARVASIDA EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG KEDONDONG (Spondias pinnata) TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Debby D. Moniharapon 1 , Abdul Mahid Ukratalo 1* , Bayu Wisnanda 2 1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura, Indonesia 2 Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas KIP, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia *Corresponding Author e-mail: abdulamusaad@gmail.com ABSTRAK Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue. Salah satu upaya untuk mencegah meluasnya penyakit tersebut ialah dengan pengendalian vektor. Penggunaan insektisida merupakan salah satu bentuk pengendalian vektor dalam upaya penanggulangan DBD. Terdapat dua kategori besar insektisida yang sering digunakan sebagai insektisida rumah tangga, yaitu insektisida yang berfungsi untuk membunuh serangga dan insektisida yang berfungsi untuk mengusir serangga. Kedondong (Spondias pinnata) yang merupakan keluarga Anacardiaceae yang umumnya tumbuh baik di lingkungan beriklim tropis. Kulit batang kedondong mengandung senyawa saponin, alkaloid, dan flavonoid yang merupakan metabolit sekunder yang terlibat dalam mekanisme pertahanan terhadap serangan oleh banyak mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas biolarvasida ekstrak etanol kulit batang kedondong dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Tiap perlakuan berisi 20 ekor larva nyamuk Aedes aegypti. Pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan waktu pengamatan 0 jam, 6 jam, 12 jam, 18 jam dan 24 jam. Perhitungan waktu dimulai setelah pemasukkan larva ke dalam botol percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang kedondong mampu membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Dosis efektif ekstrak etanol kulit batang kedondong dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti adalah 20 mg/mL. Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Kedondong, Biolarvasida, Aedes aegypti PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu negara tropis yang paling besar di dunia. Iklim tropis menyebabkan adanya berbagai penyakit tropis yang disebabkan oleh nyamuk seperti malaria, demam berdarah, filariasis, dan chikungunya yang menimbulkan epidemi yang berlangsung dalam spektrum yang luas dan cepat. Penyebab utama munculnya epidemi berbagai penyakit tropis tersebut adalah perkembangbiakan dan penyebaran nyamuk sebagai vektor penyakit yang tidak terkendali [1]. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan satu di antara penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan secara global terutama di negara berkembang termasuk Indonesia [2]. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4. Keempat serotipe virus dengue ini telah ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Struktur antingen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, tetapi antibodi terhadap masing-masing tipe virus tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Penderita yang tinggal di daerah endemis dapat terinfeksi lebih dari 1 serotipe selama hidupnya. Variasi genetik yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antara tipe virus, tetapi juga di dalam tipe virus itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Cara penularan DBD melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang merupakan vektor utama dan vektor sekunder DBD di Indonesia. Sampai saat ini belum ditemukan obat spesifik yang dapat digunakan untuk pengobatan DBD, sedangkan penanggulangan DBD sangat bergantung pada pengendalian vektornya [3]. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by OJS UNPATTI Publication Center (Universitas Pattimura)