14 ARTIKEL PELAYANAN PERPUSTAKAAN DALAM RANGKA PENINGKATAN KESEJAHTERAAAN BAGI PEMUSTAKA ( BEST PRACTICE PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA) Prasetyo Adi Nugroho* Abstrak Literasi terus menjadi isu penting di tingkat global saat ini. Indonesia masih terbilang rendah dalam urusan literasi. sejak tahun 2017, pemerintah sudah mengganti wajah dari perpustakaan menjadi perpustakaan inklusi sosial. Dimana perpustakaan saat ini bukan hanya sebagai lokasi tempat membaca saja. Tapi sekaligus juga tempat melakukan aktifitas sosial agar bisa menyejahterakan masyarakat. Sejalan dengan visi Universitas Airlangga yang telah mencanangkan diri sebagai World Class University (WCU), perpustakaan Universitas Airlangga mendukung program kerja universitas. Salah satunya mengembangkan program literasi kesejahteraan. Perpustakaan Universitas Airlangga dalam mendukung literasi kesejahteraan melalui tiga hal yaitu: program i-sekolah, program bisnis kamu dan program pengabdian pada masyarakat. Sehingga pemustaka dapat mendayagunakan perpustakaan sebagai wahana pengembang dan penambah wawasan serta informasi untuk mengembangkan kualitas hidupnya. Keywords: Literasi Kesejahteraan, Perpustakaan, Inklusi Sosial PENDAHULUAN Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita. Dibandingkan negara- negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia sangat rendah. Literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan. Kualitas pendidikan yang rendah menyebabkan rendahnya kualitas lulusan pada tingkat pendidikan primer, sekunder, maupun pendidikan tinggi. Ini merupakan faktor utama rendahnya tingkat literasi. Di Indonesia, hingga saat ini persoalan membaca, perilaku membaca maupun minat baca masih menjadi perhatian utama dalam berbagai pembahasan seputar pengembangan kualitas sumber daya manusia masyarakat khususnya generasi muda. Dikaitkan dengan literacy rate sebagai indikator Human Development Index (HDI), peringkat Indonesia masih di bawah negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam (Jalal & Sardjunani, 2005). Selain itu, pada tahun 2016, Central Connecticut State University merilis hasil “The World Most Literate Nation Study”. Studi ini selain menggunakan hasil penilaian PISA juga menambahkan ketersediaan dan ukuran perpustakaan serta akses terhadap informasi. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia berada pada posisi ke-60 di atas Botswana. Untuk kawasan ASEAN posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sementara itu, penelitian Perpusnas tahun 2017 menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia adalah 36,48 atau rendah. Adapun frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3–4 kali per minggu dengan lama waktu membaca buku per hari rata-rata hanya 30–59 menit dengan jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata 5–9 buku (Republika, 26 Maret 2018). Hasil ini tak boleh membuat anak-anak bangsa menjadi kehilangan semangat, tetapi ini harus dijadikan motivasi untuk terus membaca. * Pustakawan Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya Email: prasetyo.adi@staf.unair.ac.id