Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 10, F 129-138 https://doi.org/10.32315/ti.7.f129 Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2018 | F 129 Fakultas Arsitektur dan Desain, Unika Soegijapranata, Semarang ISBN 978-602-51605-8-5 E-ISBN 978-602-51605-5-4 Local Wisdom Orientasi Rumah Bugis di Desa TadampaliE Kabupaten Wajo Naidah Naing 1 , Abd. Karim Hadi 2 1 Perumahan dan Permukiman, Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia Makassar. 2 Struktur, Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia Makassar. Korespondensi : naidahnaing@yahoo.com. Abstrak Orientasi rumah bagi masyarakat Bugis Wajo senantiasa berpedoman pada local wisdom yang diyakini masyarakat Bugis, seperti arah angin atau beberapa simbol lain. Orientasi tata letak dan arah rumah dalam permukiman tradisional Bugis beragam, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap pedoman yang digunakan masyarakat Desa TadampaliE dalam menentukan orientasi rumah Tradisional Bugis baik berdasarkan tradisi ataupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Metodologi penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan model Case Study Approach. Penelitian ini bersifat deskriptif dan Metode Analisis yang digunakan adalah metode analisis Discovering Cultural Themes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal yang mempengaruhi orientasi tata letak rumah tradisional Bugis di desa TadampaliE berdasarkan empat mata angin, namun penentuan baik dan buruknya orientasi tersebut tergantung pada posisi pintu rumah. Hal ini tidak ditemukan pada local wisdom orientasi rumah pada permukiman lain di Indonesia. Kata-kunci : Local Wisdom, Orientasi, Rumah Bugis Pendahuluan Masyarakat tradisional Wajo berangkat dari pendangan hidup ontologis yang memahami alam semesta secara universal. Filosofi hidup masyarakat Bugis Wajo adalah sulapa’ eppa’ yang berarti penyempurnaan diri. Artinya segala aspek kehidupan manusia akan sempurna bila terbentuk dari empat unsur: air, tanah, api dan angin. Rumah Tradisional Bugis berbentuk panggung, dengan denah berbentuk segi empat dengan model atap pelana. Bentuk rumah panggung Bugis seperti ini seperti yang dikemukakan oleh Mardanas (1985). Hal ini sejalan yang disampikan Robinson (2005) bahwa menurut manuskrip/ Lontara’ Rappang yang tak terkatalog, kualitas ideal tanah untuk sebuah rumah Bugis dalah dilihat dari warna, bau dan rasa, sedangkan bentuk ideal tanah adalah persegi empat dengan lebar lebih pendek dari panjangnya. Rumah dipengaruhi oleh struktur kosmos, alam atas, alam tengah alam bawah. Alam atas untuk alam suci, alam tengah untuk manusia dan alam bawah untuk interaksi dengan lingkungan sekitar. Orde adalah adat istiadat yang harus ditaati oleh masyarakat dirumah. Di Wajo rumah dan orde dianggap sebagai ketetapan Dewata Seuwwae (Tuhan Yang Maha Esa). Pelanggaran orde berarti malapetaka bagi masyarakat yang melakukan pelanggaran. Perhitungan tentang datangnya banjir, angin, gempa dianggap telah terwakili oleh perhitungan pada pemilihan tempat dan orientasi rumah (Abbas, 2016). Orientasi rumah bagi masyarakat Bugis sangat penting dan disakralkan, dimana ada beberapa unsur yang digunakan sebagai pedoman arah orientasi yaitu gunung, jalan, sungai, matahari, laut dan arah mata angin. Namun secara umum orientasi tata letak rumah Bugis dibedakan atas bola mabbuju (Rumah membujur) yaitu rumah yang memanjang searah Timur-Barat dan bola-