JLT – Jurnal Linguistik Terapan Volume 2, Nomor 1, Mei 2012 Politeknik Negeri Malang ISSN: 2088-2025 PENGKHIANATAN DEMI KESETIAAN: UPAYA MASUK AKAL UNTUK MENCAPAI TERJEMAHAN PUISI IDEAL Sugeng Hariyanto Politeknik Negeri Malang ABSTRAK Di dalam penerjemahan puisi sering dikatakan bahwa hasil terjemahan tidak sebaik puisi aslinya. Lebih jauh, ada tiga mitos tentang hasil penerjemahan puisi, yaitu: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Di dalam artikel singkat ini penulis berusaha menelusuri asal- muasal mitos di atas dan mencoba menyajikan pandangannya tentang kebenaran mitos tersebut. Penulis juga menyinggung bagaimana penerjemahan puisi sumber yang sama bisa menghasilkan puisi-puisi yang berbeda jika penerjemahannya dilakukan oleh penerjemah yang berbeda. Keruwetan ini menjadi bertambah, menurut penulis, jika kritikus ikut mengomentari hasil terjemahan karena penerjemah dan kritikus mungkin sekali memiliki pengalaman dan latar budaya yang berbeda. Akhirnya, penulis mengemukakan pendapatnya bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi tetap bisa diupayakan untuk ‘setia’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan. Kata kunci: puisi, terjemahan, kesetiaan bentuk dan isi, keindahan, kritik terjemahan Penerjemahan sastra, khususnya penerje- mahan puisi, sering dianggap sebagai penerjemahan yang paling sulit. Ini dapat dimengerti karena karya sastra memiliki nilai estetis dan sekaligus ekspresif. Nilai estetik ini maujud di dalam keindahan kata (pilihan kata), gaya bahasa, metafora, dan bahkan dalam ketaksaan maknanya. Nilai ekspresifnya harus dijaga juga dengan cara menyampaikan pikiran penulis, emosi penulis, dll., yang terkandung dalam kata-kata yang indah tersebut. Terlebih-lebih dalam penerjemahan puisi, keruwetan ini masih ditambah dengan upaya untuk menjaga rima, ritme, dll., yang terkait dengan rasa bunyi bahasanya. Karena sulitnya penerjemahan puisi ini, sampai-sampai berkembang beberapa mitos tentang penerjemahan puisi. Mitos dalam Penerjemahan Puisi Ada beberapa ‘mitos’ yang berkembang tentang menerjemahkan puisi. Yang saya maksud ‘mitos’ adalah kata-kata yang telah dipercayai kebenarannya tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kadang hal ini juga kita sebut asumsi. Mitos-mitos atau asumsi-asumsi tersebut adalah: (a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.