Ulama-Ulama Suf Penyebar Islam dari Aceh Abad 17 (Biograf, Karya Dan Ajaran) Depi Kurniati UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi Jl. Arif Rahman Hakim No.111, Simpang IV Sipin, Kota Jambi, Jambi 36361 Email: depi.kurniati07@gmail.com Abstract: Suf scholars who spread Islam from Aceh in the 17th century. This research used qualitative methods with the type of library research. The sources of this research were ob- tained from journals and books. The results of this study are that these three scholars both believe that the ultimate being is Allah, only in the elaboration of the concept there are dif- ferences between the concepts brought by Fansuri and Sumatrani with ar-Raniri. Fansuri and Sumatrani believes there is only one form and then emit another form, but still with one form, while ar-Raniri believes that there are two separate forms. Keywords: Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri. Abstrak: Ulama-ulama Suf Penyebar Islam dari Aceh pada Abad ke 17 M. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Sumber-sumber dari penelitian ini di dapatkan dari jurnal-jurnal dan buku-buku. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ketiga ulama ini sama-sama meyakini tentang wujud hakiki adalah Allah, hanya saja dalam penjabaran konsepnya terdapat perbedaan antara konsep yang dibawa oleh Fansuri dan Sumatrani dengan ar-Raniri. Fansuri dan Sumatrani meyakini hanya ada satu wujud dan kemudian memancarkan wujud lain, namun tetap dengan wujud yang satu, sedangkan ar-Raniri meyakini ada dua wujud tersendiri. Kata Kunci: Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri. Pendahuluan Proses islamisasi di Nusantara bermula dari daerah-daerah pelabuhan yang meru- pakan ibukota dari kerajaan, seperti Pasai dan Malaka yang menjadi pusat intelek- tual Islam. Ada banyak kajian yang mem- bahas tentang perkembangan Islam di Nu- santara. Salah satu di antaranya ada yang berpendapat bahwa dalam perkembangan dan masuknya Islam di Nusantara tidak lu- put dari peran para pedagang yang datang dari Gujarat dan Timur Tengah. Para sau- dagar itu kemudian menikah dengan orang pribumi yang kemudian beranak-pinak sehingga semakin banyaklah orang-orang yang memeluk Islam. Di antara peneliti itu ada yang berpendapat bahwa para ulama suf memiliki peranan yang cukup kuat dalam upaya Islamisasi di Nusantara. Sep- erti yang ditulis Viktor dalam Ismail ten- tang Islam yang pertama kali berkembang di Indonesia adalah Islam model sufsme. Selain itu juga pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Aboebakar Atjeh dalam bukunya yang berjudul Aliran syiah di Nusantara menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Nusantara tidak langsung dari orang Arab, melainkan pada abad ke 7M terjadinya hubungan antara Mekah dan Madinah dengan penduduk Nusantara yang naik haji dan belajar di sana yang tidak sedikit jumlahnya. Orang-orang ini- lah yang pada awalnya mempelajari Islam dari tempat kelahiran Rasulullah kemu- dian pulang ke tanah air dan membuka tantangan terhadap ajaran-ajaran dan cara berfkir yang dimasukkan orang-orang sebelumnya mengenai Hindustan menge- nai Islam, sebagaimana diikuti dengan ke- datangan orang Arab Hadramaut ke Nu- santara untuk memberi pengaruh tentang cara meyakini Islam dan cara berfkir. 2 Akan tetapi Hamka dalam bukunya me- nyangkal hal tersebut. Hamka menjelaskan bahwa mazhab utama sejak permulaan adalah mazhab Syaf’I dalam lingkup Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Hamka menyatakan bahwa kedatangan ulama-ulama Syiah