|91 Semesta 2022 PENGEMBANGAN WISATA KREATIF BERBASIS BUNGA MATAHARI MELALUI PENDEKATAN PERMAKULTUR DI DESA NANGGALAMEKAR KABUPATEN CIANJUR (Creative Tourism Development Based On Sunflowers Through A Permacultural Approach in Nanggalamekar Village, Cianjur Regency) ASEP MIFTAHUL FALAH *) , SAFTIYANINGSIH KEN ATIK, KOMARUDIN KUDIYA, FARID KURNIAWAN NOOR ZAMAN Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion, Universitas Muhammadiyah Bandung “Jl. Soekarno - Hatta No. 752, Cipadung Kidul, Panyileukan” Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia 40614 *e-mail korespondensi: asepmiftahulfalah@gmail.com ABSTRACT Tourism Village development activities essentially involve the role of all existing and related stakeholders. The community is one of the important elements of stakeholders to work together with the village government and universities to synergize to implement and support the development of tourism villages. Currently, Nanggalamekar Village is included in the development stage of the tourist village, it will be stopped, there are several obstacles to tourism development in Nanggalamekar Village. Some of these obstacles include; the tourism village roadmap listed in the RPJMDes has not been applied, the need to develop a partnership net with other parties for the development of tourism villages, as well as the need for institutional strengthening of several organizations in the village, such as; Pokdarwis, and Karang Taruna. This activity uses a design thinking method with a Participatory Action Research (PAR) approach. Through the PAR approach, it will form a Hexa Helix collaboration, namely six elements of interest, namely Academic, Business, Government, Mass Media, Community, and Tourists (ABGMCT). Then to sharpen the research process, the stages of implementation are carried out; 1) Empathize, 2) Define, 3) Ideate, 4) Prototyping and 5) Test. The PAR and Design Thinking approaches are expected to be more effective in producing solutions that can be applied to the community. As a result, the community can optimize the creative tourism village so that it can expand the market more broadly, in the end it will help change the economic, social, cultural or environmental situation of the people of Nanggalamekar Village. Keyword: creative tourism, Nanggalamekar Village, permaculture, sunflower. ABSTRAK Kegiatan pengembangan desa wisata pada hakekatnya melibatkan peran dari seluruh pemangku kepentingan yang ada dan terkait. Masyarakat adalah salah satu unsur penting pemangku kepentingan untuk bersama-sama dengan pemerintah desa dan perguruan tinggi bersinergi melaksanakan dan mendukung pembangunan desa wisata. Saat ini Desa Nanggalamekar masuk kedalam tahap pengembangan desa wisata, akan tetepi, terdapat beberapa hambatan pengembangan wisata di Desa Nanggalamekar. Beberapa kendala tersebut di antaranya; belum teraplikasikan roadmap desa wisata yang tercantum dalam RPJMDes, perlunya pengembangan jaring kemitraan dengan pihak lain guna pengembangan desa wisata, serta perlunya penguatan kelembagaan terhadap beberapa organisasi di desa, seperti; Pokdarwis dan Karang Taruna. Kegiatan ini menggunakan metode design thinking dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Melalui pendekatan PAR akan membentuk kerjasama Hexa Helix yaitu enam unsur pengampu kepentingan yaitu Academic, Business, Government, Media Massa, Community, and Tourists (ABGMCT). Kemudian untuk mempertajam proses penelitian ini dilaksanakan tahap-tahap pelaksanaan; 1) Empathize, 2) Define, 3) Ideate, 4) Prototyping and 5) Test . Pendekatan PAR dan Design Thinking diharapkan dapat lebih efektif untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan ke masyarakat. Hasilnya masyarakat dapat mengoptimalkan desa wisata kreatif sehingga dapat mengekspansi pasar lebih luas, pada akhirnya akan membantu mengubah situasi ekonomi, sosial, budaya atau lingkungan masyarakat Desa Nanggalamekar. Kata kunci: bunga matahari, Desa Nanggalamekar, permakultur, wisata kreatif PENDAHULUAN Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata serta bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pengusaha (UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan). Pariwisata merupakan kegiatan langsung masyarakat, sehingga memberikan dampak bagi masyarakat lokal (Sastrayuda, 2010).