Seleksi Ketahanan Klon-Klon Harapan Gladiol terhadap Fusarium oxysporum f. sp. gladioli Nuryani, W., D.S. Badriah, T. Sutater, E. Silvia, dan Muhidin Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Jl. Raya Ciherang-Pacet, Cianjur 43253 Naskah diterima tanggal 12 November 2003 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 11 Januari 2005 ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon harapan gladiol yang tahan terhadap layu fusarium. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial. Faktor (1) klon-klon harapan gladiol, terdiri dari 96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202; 96215/122; 96204/69; 96213/109; 96210.1/170; holland merah; dan 621-1. Faktor (2) kerapatan inokulum F. oxysporum, terdiri dari 0 sel konidia/g tanah; 10 4 sel konidia/g tanah; 10 8 sel konidia/g tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa gladiol dengan nomor klon 96215/49; 623-1 dan 96213/109 merupakan klon harapan gladiol yang paling tahan terhadap layu F. oxysporum f. sp. dan klon 9612/168 merupakan klon yang paling rentan. Kata kunci: Gladiolus hybridus; Klon; Fusarium oxysporum f. sp. gladioli; Resistensi ABSTRACT. Nuryani, W., D.S. Badriah, T. Sutater, E. Silvia, and Muhidin. 2005. Response of gladiolus prom- ising clones to Fusarium oxysporum f. sp. gladioli. The aim of the experiment was to examine the resistance of gladi- olus clones to fusarium wilt. Factorial randomized block design was used in the experiment. The first factor was gladiolus promising clones, consist of 96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202; 96215/122; 96204/69; 96213/109; 96210.1/170; holland merah; 621-1. The second factor was density of inoculum F. oxysporum, consist of nill conidia/g soil; 10 4 cells conidia/g soil; and 10 8 cells conidia/g soil. The results showed that the gladiolus clone number 96215/49; 623-1 and 96213/109 were the most resistant to Fusarium oxysporum f. sp. gladioli and clone number 9612/168 was the most susceptible. Keywords: Gladiolus hybridus; Clones; Fusarium oxysporum f. sp. gladioli; Resistancy. Layu fusarium yang disebabkan F. oxysporum f. sp. gladioli merupakan penyakit utama tanaman gladiol. Di negara-negara penghasil bunga gladiol, seperti di Belanda dan Italia, penyakit ini menimbulkan kerugian yang cukup besar (Lenna & Favaron 1985). Di Florida, kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut dapat mencapai $ 1,5 juta setiap musimnya (Pirone 1978). Di Indonesia kehilangan hasil yang diakibatkannya sampai 100% (Djatnika 1989). Diperkirakan lebih dari 50% bibit gladiol yang diperdagangkan petani Jawa Barat terinfeksi F. oxysporum, sehingga kerugian yang ditimbulkannya sebesar Rp.0,5-0,7 milyar per musim tanam. Upaya pengendalian penyakit tersebut banyak dianjurkan dengan cara desinfeksi subang, sterilisasi lahan pertanaman (McKay & Hughes 1982), dan rotasi tanaman yang diduga dapat memutuskan siklus hidup F. oxysporum yang bersifat tular tanah (Kartapraja et al. 1996). Semua cara tersebut dalam jangka pendek hasilnya kurang memuaskan karena klamidospora cendawan tersebut mampu bertahan beberapa tahun di dalam tanah. Penggunaan pestisida dalam jangka panjang tidak dianjurkan karena selain berpengaruh buruk pada lingkungan, juga dapat mengakibatkan resistensi patogen terhadap penggunaan fungisida serta merangsang timbulnya ras-ras fusarium baru. Alternatif terbaik dalam mengendalikan penyakit layu fusarium adalah menggunakan kultivar resisten. Cara tersebut merupakan cara yang murah bagi petani dan dapat mengurangi penggunaan pestisida sehingga lingkungan menjadi lebih aman dari polusi. Skrining kultivar gladiol terhadap layu fusarium telah dilakukan dengan isolat F. oxysporum dari pertanaman gladiol di Cipanas dan tidak ditemukan kultivar yang tahan terhadap penyakit ini (Badriah et al. 1996). Nuryani et al. (2001) melaporkan bahwa pada penelitian skrining kultivar gladiol terhadap tiga isolat patogen F. oxysporum menghasilkan dua populasi subang gladiol, yaitu nomor 96204 dan 96207-2 yang paling tahan terhadap F. oxysporum f. sp. gladioli. Hasil penelitian sebelumnya, Nuryani et al. (2000) melaporkan bahwa nomor populasi 14 x P; RU x WF, dan 96217 paling tahan terhadap F. oxysporum. Perbedaan respons tekanan infeksi antarkultivar 37 J. Hort. 5(1):37-42, 2005