SENATEK 2015 | Malang, 17 Januari 2015 775 SEMINAR NASIONAL TEKNOLOGI 2015 Institut Teknologi Nasional Malang ISSN: 2407 – 7534 Kajian Penggunaan Magnesol Pada Proses Pencucian Biodiesel Harimbi Setyawati 1 , Bagas Arya Jatyaraga 2 , Leonardo Kusuma Atmadja 3 1) Program Studi Teknik Kimia ITN Malang e-mail: arimbisetya@yahoo.co.id ABSTRAK Kebutuhan energi di Indonesia makin meningkat. Sedangkan bahan bakar fosil semakin menipis. Untuk itu diperlukan alternatif bahan bakar yang efisien dan berkualitas. Salah satunya adalah Biodiesel. Biodiesel yang berkualitas mempunyai beberapa ketentuan, salah satunya adalah standard kualitas biodiesel yang dikeluarkan oleh pihak terkait. Untuk itu berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas Biodiesel, termasuk pada proses pencucian biodiesel tersebut Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan biodiesel dengan kualitas yang baik sesuai dengan standard kelayakan biodiesel di Indonesia dengan proses pencucian menggunakan magnesium silikat (Magnesol) . Metode Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan cara mengambil data dari hasil penelitian, kemudian menganalisa hasil dengan metode analisa SNI 04-7182-2006. Proses pemurnian dry washing biodiesel menggunakan adsorben magnesium silikat, dapat meningkatkan kemurnian dari biodiesel yang dihasilkan. Penggunaan magnesium silikat yang tepat akan menyerap impurities dengan maksimal, termasuk sisa gliserol, sisa alkohol dan katalis, serta air dan sedimen pada biodiesel.Karakter fisik biodiesel secara umum telah memenuhi standard kelayakan biodiesel di Indonesia yang diatur dalam SNI 04-7182-2006 kecuali beberapa poin yaitu angka setana dan gliserol bebas.Masa aktif magnesium silikat (magnesol) rata-rata adalah sekitar 40-50 menit. Setelah itu disinyalir magnesium silikat (magnesol) telah atau mulai mengalami kejenuhan. Kata kunci: Biodiesel, Magnesium Silikat Pendahuluan Kebutuhan energi di Indonesia makin meningkat. Sedangkan bahan bakar fosil semakin menipis. Untuk itu diperlukan alternatif bahan bakar yang efisien dan berkualitas. Salah satunya adalah Biodiesel. Biodiesel yang berkualitas mempunyai beberapa ketentuan, salah satunya adalah standard kualitas biodiesel yang dikeluarkan oleh pihak terkait. Untuk itu berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas Biodiesel, termasuk pada proses pencucian biodiesel tersebut Dari data yang diperoleh terkait akan prakiraan kebutuhan energy di Indonesia mulai tahun 2005, yang dikeluarkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Energi (BPPT) menghasilkan kesimpulan bahwa kebutuhan energy di Indonesia diprediksi akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini didasarkan oleh analisis yang telah dilakukan pihak terkait terhadap penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Diperkiraan kebutuhan energy akan mencapai puncak pada tahun 2030. Selain itu, air menjadi faktor utama yang melatar belakangi penelitian ini. Dengan menggunakan metode wet washing, maka kebutuhan akan air, dan jumlah air yang dihasilkan dari sisa proses akan menjadi sangat besar. Diperlukan penanganan khusus dalam pemurnian air tersebut. Untuk itu diperlukan alternatif solusi penyelesaian yang lain, salah satunya adalah metode dry washing biodiesel. Biodiesel didefinisikan sebagai mono-alkyl ester asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewan.[3] Impurities yang biasanya terkandung pada biodiesel adalah kandungan air, gliserol, sisa katalis dan alkohol.[5, 8] Diperlukan proses pemurnian (pencucian) untuk mendapatkan biodiesel yang bebas dari impurities sesuai dengan standard kelayakan biodiesel di Indonesia. Proses pemurnian biodiesel, secara umum dibagi menjadi dua, yaitu wet washing dan dry washing. Wet washing