P-ISSN:2459-9921 E-ISSN:2528-0570 277 JURNAL PENELITIAN IPTEKS V OL. 5 NO. 2 JULI 2020 HAL: 277-281 Gambaran Respirasi Rate (RR) Pasien Asma Dian Kartikasari dan Benny Arief Sulistyanto Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Email: dian.kartikasari1989@gmail.com dan benny.arief@gmail.com Diterima: Juli 2020; Dipublikasikan: Juli 2020 ABSTRAK Penyempitan bronkus pada pasien asma mengakibatkan sesak napas. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran resprasi rate (RR) pasien asma. Penelitian kuantitatif menggunakan metode analitik observasional melibatkan 30 pasien secara accidental sampling. Pengukuran dengan menggunakan lembar catatan observasi. Hasi penelitian terdapat peningkatan RR pasien asma dengan pasien mengalami peningkatan RR sebanyak 100% (30 pasien). Hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi perawat untuk menentukan intervensi yang tepat bagi pasien asma baik secara mandiri ataupun kolaborasi. Kata Kunci: asma, respirasi rate, analitik observasional ABSTRACT Narrowing of the bronchi in asthma patients results in shortness of breath. The aim of this study was to describe the respiration rate (RR) of asthma patients. This quantitative study using observational analytical methods involved 30 patients by accidental sampling. Measurements using observation note sheets. The result of the study was an increase in the RR of asthmatic patients with patients experiencing an increase in RR by 100% (30 patients). This can be a consideration for nurses to determine the right intervention for asthma patients either independently or collaboratively. Keywords: asthma, respiration rate, observational analytics PENDAHULUAN Penyempitan bronkus pada pasien asma diakibatkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap sesuatu perangsangan langsung/fisik ataupun tidak langsung (Smeltzer, et.al, 2008). Pasien asma memerlukan penanganan yang baik untuk membantu proses penyembuhan dan rehabilitasi serta upaya pencegahan kekambuhan yang berulang, sehingga dapat mencegah komplikasi ataupun kematian. Masyarakat perlu mengetahui asma secara baik bukan hanya sekedar pemahaman bahwa asma merupakan penyakit yang sederhana serta mudah diobati. Perspektif ini akan mengarah kepada upaya pengobatan saja untuk mengatasi gejala asma seperti gejala sesak napas dan mengi dengan pemakaian obat-obatan dan bukan mengelola asma secara lengkap (Nugroho, 2009). Peningkatan prevalensi morbiditas dan mortalitas asma di seluruh dunia terutama terjadi di daerah perkotaan dan industri. Penderita asma ringan dan periodik tidak menyadari mengidap asma dan menduganya sebagai penyakit pernapasan lain atau batuk biasa. Gangguan yang terjadi akan mempengaruhi status respirasi pada pasien asma, seperti peningkatan upaya pernafasan seperti peningkatan respiratory rate, batuk dan sesak (Kartikasari, et. al., 2019). Upaya pernafasan ini merupakan upaya kompensasi bagi pasien asma untuk meningkatkan oksigenasi, namun hal ini akan mengakibatkan penggunaan otot pernafasan yang berlebih sehingga menyebabkan kelelahan. Sehingga perlu adanya latihan yang mampu mengatur upaya pernafasan sehingga tidak terjadi secara berlebihan (Atmoko, Widi, et al., 2011). Prevalensi yang tinggi menunjukkan bahwa pengelolaan asma belum berhasil. Berbagai faktor menjadi sebab dari keadaan yaitu kurang pengetahuan tentang asma, pelaksanaan pengelolaan yang belum maksimal, upaya pencegahan dan penyuluhan dalam pengelolaan asma yang masih perlu ditingkatkan. Mengingat hal tersebut pengelolaan asma yang terbaik haruslah dilakukan pada saat dini dengan berbagai tindakan pencegahan agar penderita tidak mengalami serangan asma, terlebih kepada upaya untuk mengembalikan status respirasi normal seperti semula (Zul Dahlan, 2005). Penyakit asma merupakan salah satu masalah kesehatan seluruh dunia, yang mempengaruhi kurang lebih 300 juta jiwa. Angka kematian di dunia akibat asma sekarang diperkirakan 250.000 orang per tahun (Ikawati, 2017). Kasus di dunia cukup besar, berdasarkan