1 Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, Jember 2 Jurusan Ilmu Lingkungan, Fakultas Kehutanan da Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo, Kendari 3 Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo, Kendari Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol. 7 No. 1 Februari 2023 ANALISIS HUBUNGAN LAND SURFACE TEMPERATURE (LST) DAN INDEKS KERAPATAN VEGETASI (NDVI) DAS WANGGU, SULAWESI TENGGARA ANALYSIS DYNAMIC OF LAND SURFACE TEMPERATURE (LST) AND NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) WANGGU WATERSHED, SOUTHEAST SULAWESI) Vivi Fitriani 1 , La Gandri 2* , Lies Indriyani 2 , Sahindomi Bana 3 , La De Ahmaliun 3 1 Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, Jember 2 Jurusan Ilmu Lingkungan, Fakultas Kehutanan da Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo, Kendari 3 Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo, Kendari Email lagandri@uho.ac.id ABSTRACT LST and NDVI analysis in Das Wanggu utilizes Landsat 9 satellite remote sensing. LST calculations usde thermal band 10 and NDVI used Red band (Band 4) and InfraRed Band (Band 5). There are 5 LST classes, 17.25 oC -19.66 oC with an area of 908.16 Ha, 19.66 0C-22.08 oC covering 6973.71 Ha, 22.08 oC -24.49 oC covering 21748.26 Ha, 24.49 oC -26.90 oC covering an area of 4235.37 Ha, and 26.90 oC -29.31 oC with a wide coverage of 81.18 Ha, while NDVI values obtained 3 classes namely NDVI <0.2 of 1783.643 Ha, NDVI with a range of 0.2 – 0.5 covering an area of 28617.74 Ha, and areas with NDVI > 0.5 covering an area of 3544.87 Ha. The amount of LST is highly dependent on the type of land cover and land use. NDVI indicates the presence of vegetation in the study area. A negative relationship was found between LST and NDVI in Das Wanggu with a Correlation Coefficient of -0.179. Keywords : LST, NDVI, Wanggu Watersheet PENDAHULUAN Alih fungsi lahan dari lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun memberi dampak pada perubahan iklim mikro di kawasan perkotaan, dimana suhu udara di perkotaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu udara di kawasan sekitarnya (Pratiwi & Jaelani, 2020). Keberadaan vegetasi pada suatu wilayah memberi manfaat baik di pedesaan maupun diperkotaan, vegetasi mampu mempengaruhi udara disekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara merubah kondisi amosfer lingkungan sekitarnya. Vegetasi sebagai penyusun lahan mempunyai jenis yang beranekaragam yang menghasilkan tingkat kerapatan vegetasi yang berbeda-beda tiap penggunaan lahan di suatu daerah (Irawan & Sirait, 2018). Vegetasi memiliki peran besar dalam menjaga ekosistem. Semakin rapat vegetasi di suatu kawasan maka akan semakin nyaman untuk ditinggali. Namun, Perubahan hutan/lahan akibat pembangunan berbagai fasilitas maupun akibat aktivitas lainnya yang menggunakan/mengubah bentang alam, dapat menyebabkan terjadinya fragmentasi habitat, sehingga mengubah siklus ekologi dari suatu ekosistem (Dwi Yanti et al., 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara tutupan vegetasi terhadap nilai suhu udara permukaan, semakin rendah tutupan atau kerapatan vegetasi maka semakin tinggi suhu udara di kawasan tersebut (Zhang et al., 2010). Peningkatan suhu udara permukaan akibat efek rumah kaca dan juga alih fungsi lahan bervegetasi menjadi salah satu faktor penyebab perubahan iklim ekstrem di bumi. Hal ini dibuktikan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang merupakan lembaga yang dibentuk oleh World Meteorogical Organization (WMO) pada tahun 1988 meneliti tentang perubahan iklim global. Akibat dari bertambahnya gas rumah kaca di dalam atmosfer menyebabkan semakin meningkatnya suhu dari tahun 1860 sampai dengan tahun 2000. Salah satu kebutuhan