Jurnal Penelitian Pendidikan, Desember, 22 (3), 2022, hal. 34 3 -3 58 DOI: https://doi.org/10.17509/jpp.v22i3.54122 e-ISSN: 2541-4135| p-ISSN: 1412-565 X Copyright © authors, 2022 343 Pemikiran Kritis Filsuf Kierkegaard Tentang Manusia Eksistensialis dan Pendidikan Arie Insany & Babang Robandi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Indonesia arieinsany@gmail.com Naskah diterima tanggal 09/09/2022, direvisi akhir tanggal 12/11/2022, disetujui tanggal 19/11/2022 Abstrak Berbagai interpretasi (penafsiran) yang menghadirkan manusia dengan kedirian yang tidak konkret, baik karena pemahaman yang universal maupun yang abtraktif, harus segera diperbaiki dan digantikan dengan interpretasi (penafsiran) yang bisa menyelamatkan eksistensi manusia sebagai individu. Untuk memenuhi tuntutan ini, perlu diungkap dan dikaji kembali makna eksistensi manusia yang dapat dijadikan objek formal guna memotret, menganalisis dan memperbaiki realitas interpretatif (kenyataan tafsir) tentang manusia sebagai objek materialnya. Pemikiran tentang ‘individu’ sebagai eksistensi dari manusia yang pernah dilontarkan oleh Søren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf berkebangsaan Denmark, merupakan paradigma yang fasilitatif (memadai) untuk dapat memperbaiki interpretasi (penafsiran) tentang manusia sekaligus memberikan kontribusi terhadap proses pendidikan dalam memahami karakteristik dan keunikan individulitas dalam khazanah pembelajaran di Indonesia. Kata Kunci : Eksistensialisme, Individualitas Manusia, Pendidikan Abstract Various interpretations (interpretations) that present humans with a non-concrete self, either because of universal or abstract understanding, must be immediately corrected and covered with interpretations (interpretations) that can save human existence as individuals. In order to fulfill this demand, it is necessary to uncover and review the meaning of human existence which can be used as a formal object to photograph, analyze and improve interpretive reality (true interpretation) about humans as their material object. The notion of the 'individual' as the existence of human beings, which was put forward by Søren Aabye Kierkegaard, a Danish philosopher, is a facilitative (adequate) paradigm to be able to improve interpretation (interpretation) of human beings while at the same time contributing to the educational process in understanding the characteristics and uniqueness of individuality. in the treasures of learning in Indonesia . Keywords: Existentialism, Human Individuality, Education PENDAHULUAN Eksistensialisme merupakan pemikiran kefilsafatan yang hadir dengan tema khusus, yakni tentang eksistensi (keberadaan) manusia. Walau para filsuf yang tergolong di dalamnya berbeda tafsiran mengenai makna eksistensi itu sendiri, akan tetapi mereka sepakat dalam menetapkan bahwa manusia konkret harus menjadi starting point (titik tolak) dan perhatian utama bagi pemikiran filsafat. Mereka juga memahamkan dan meyakinkan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Isu tentang keunikan individu dalam konkretisasi (perwujudnyataan) kehidupan manusia sebenarnya telah pernah dijadikan tema sentral oleh gerakan positivisme dan materialisme sejarah, yakni di saat kedua gerakan ini mengkritisi sekaligus menolak pemikiran Hegel. Kaum positivis yang sejak awal menjalankan dan memberikan dukungan penuh terhadap tradisi empiris, nyata-nyata menolak filsafat Hegel yang mereka pahami telah menghadirkan manusia dalam kawasan universal sebagai salah satu fase perkembangan ide absolut. Dalam pandangan mereka, manusia bukanlah sosok makhluk yang dipikirkan dan berada di dalam dunia ide, akan tetapi merupakan makhluk yang memikirkan berbagai hal dengan berdasar pada pengalaman hidupnya yang unik. How to cite (APA Style) : Insany, A., & Robandi B., (2022), Pemikiran Kritis Filsuf Kierkegaard Tentang Manusia Eksistensialis dan Pendidikan. Jurnal Penelitian Pendidikan, 22 (3), 343-358. doi: https://doi.org/10.17509/jpp.v22i3.54122