ISSN 2087-3352 KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL-BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI PALEMBANG: STUDI KOMUNIKASI ANTAR-BUDAYA Aprilyanti Pratiwi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila Jalan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640 E-mail: aprilyanti.mikom@gmail.com Abstrak Sebagai salah satu etnis di Indonesia, etnis Tionghoa sering kali mengalami diskriminasi dari etnis lain di Indonesia. Bagaimana etnis Tionghoa di Palembang mengonstruksi realitas sosial-budaya mereka menurut pandangan mereka sendiri? Bagaimana etnis Tionghoa di Kota Palembang mengelola kesan komunikasi mereka dengan warga setempat? Jawaban ini dapat ditemukan dengan studi kualitatif Komunikasi Antarbudaya dengan melakukan wawancara dan observasi terhadap 2 informan, serta analisis data terhadap artikel mengenai masyarakat kampung Kapitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa Kampung Kapitan menganggap kampung mereka ini merupakan peninggalan leluhur yang harus selalu dilindungi tidak hanya bangunannya saja melainkan kebudayaan kesehariannya pun harus selalu dilestarikan. Etnis Tionghoa kampung Kapitan menganggap bahwa mereka adalah wong Plembang (orang Palembang). Tingkat frekuensi komunikasi yang dilakukan masyarakat etnis Tionghoa Kampung Kapitan dengan masyarakat sekitar tempat tinggal mereka sangatlah tinggi. Terjadinya proses akulturasi dan modernisasi pada masyarakat etnis Tionghoa kampung Kapitan, yaitu pada pernikahan, agama, dan nilai-nilai. Secara verbal, masyarakat Kampung Kapitan pada umumnya menggunakan bahasa Palembang, secara non- verbal bahwa penampilan dan pakaian serta gerakan dan postur tubuh mereka tidak berbeda jauh dengan masyarakat etnis Palembang. Yang membedakan etnis Tionghoa Kampung Kapitan dari masyarakat Palembang yaitu memiliki kulit putih serta mata yang sipit. Kata Kunci: Realitas sosial, etnis Tionghoa, Kampung Kapitan. Abstract As one of the ethnic groups in Indonesia, Chinese Indonesians groups often face discrimination from other ethnic groups in Indonesia. How Chinese ethnic groups in Palembang construct socio-cultural reality according to their own views? How do they manage their communications with the impression of local residents? The answer to these questions can be found through this qualitative study of Intercultural Communication by conducting interviews observations of the two informants, and data analysis of the articles of Kampung Kapitan. The results showed that the Chinese community of Kampung Kapitan assumed their villages is an ancestral heritage that must be protected not only their building but also their cultures too. The Chinese ethnic of Kampung Kapitan assumed that they are wong Plembang (Palembang people). The frequency of communications of Chinese ethnic community of Kampung Kapitan with surrounding communities where they live is very high. The process of acculturation and modernization of the Chinese ethnic of Kampung Kapitan are on marriage, religion, and values. Verbally, Chinese ethnic of Kampung Kapitan in general use Palembang language, non-verbally that the appearance and clothing as well as movement and posture are the same as that of Palembang ethnic communities. The obvious between Chinese ethnic groups of Kampung Kapitan people and Palembang people are paler skin and slit eyes. Keywords: Social reality, Chinese etnic, Kampung Kapitan. CoverAge: Journal of Strategic Communication Vol. 7, No. 1, Hal. 55-69 September 2016 Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila Diterima 24 Februari 2015 Disetujui 17 Juli 2016 brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Universitas Pancasila Journal