JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 9, No. 1, (2020) ISSN: 2337-3520 (2301-928X Print) D40 Abstrak—Terdapat berbagai tantangan yang dihadapi bisnis dengan konsep ramah lingkungan, seperti dampak dari fenomena perubahan preferensi konsumen yang mempertimbangkan aspek ramah lingkungan pada konsumsinya. Tantangan tersebut yakni adanya fenomena greenwashing serta pertumbuhan jumlah kompetitor di pasar seiring waktu. Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan profil antara dua toko nol limbah yang terdapat di Kota Surabaya, yakni Alang-Alang Zero Waste Store dengan kompetitornya, yakni Mamaramah Eco Bulk Store. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang disebarkan kepada 22 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetitor Alang-Alang Zero Waste Store, yakni Mamaramah Eco Bulk Store, lebih unggul dibandingkan Alang-Alang Zero Waste Store dengan mengungguli di 9 faktor atribut dari total 15 faktor atribut. Terdapat implikasi manajerial yang dapat dimplementasikan pihak Alang-Alang Zero Waste Store dengan tujuan mengoptimalkan faktor atribut produk dan toko yang dimiliki merek. Implikasi manajerial tersebut adalah menambahkan pilihan metode pembayaran, mengadakan event marketing serta in-store marketing, dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pramuniaga toko. Kata Kunci—Toko Nol Limbah, Faktor Atribut Produk, Faktor Atribut Toko, Analisis Skala Pengukuran Semantic Differential I. PENDAHULUAN ERO waste merupakan pendekatan seluruh sistem yang bertujuan untuk menghilangkan limbah dibandingkan mengelola limbah yang dihasilkan [1]. Konsep zero waste hadir di tengah perhatian akan aspek keberlanjutan yang terus mendapatkan momentum terutama di negara dengan populasi yang semakin bertambah dengan dampak buruk bagi lingkungan yang tinggi [2]. Hal ini dapat dilihat dari perubahan perilaku konsumen di mana 80 persen konsumen Asia Tenggara seperti Indonesia, yang bersedia membayar lebih untuk produk dan jasa yang peduli pada isu lingkungan dan sosial melebihi wilayah lain di seluruh dunia seperti Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, Eropa, dan Amerika Utara [3]. Selain itu, sebanyak 78 persen responden dari Indonesia bersedia membayar ekstra untuk produk atau jasa dari perusahaan yang memiliki komitmen untuk membawa dampak positif bagi sosial dan lingkungan [4]. Dapat dilihat bahwa kenaikan jumlah konsumen Indonesia yang sadar akan adanya isu lingkungan dan mulai melakukan perubahan preferensi pembelian ke produk ramah lingkungan cukup signifikan, yakni sebesar 14 persen dari tahun 2014 ke tahun 2015. Hal ini menunjukkan bahwa kini konsumen memiliki preferensi dan motivasi untuk lebih sadar lingkungan yang diwujudkan melalui penggunaan kekuatan dan suara mereka berdasarkan seberapa besar dampak yang diberikan produk yang mereka beli terhadap lingkungan. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya sehingga walaupun data yang dilaporkan adalah konsumen Indonesia secara keseluruhan, namun Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia berdasarkan jumlah penduduk, sehingga mampu merepresentasikan kondisi perubahan preferensi konsumen yang sedang terjadi. Terdapat permasalahan yang disebabkan dari tren peningkatan data jumlah konsumen yang mempertimbangkan dampak lingkungan pada konsumsinya. Hal ini menyebabkan berbagai bisnis memanfaatkan perubahan perilaku ini. Alih- alih menerapkan secara nyata nilai ramah lingkungan pada proses dan produknya, terdapat bisnis yang sekadar melabeli diri dengan citra ramah lingkungan tanpa benar-benar meminimalisasi dampak negatif bisnis pada lingkungan. Akibatnya, terdapat fenomena greenwashing yang terjadi karena adanya tumpang tindih antara praktek nyata bisnis dengan apa yang dikomunikasikan kepada konsumen [5]. Greenwashing adalah klaim lingkungan perusahaan yang tidak jujur, meragukan atau menyesatkan. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan konsumen terhadap komunikasi bisnis mengenai produk ramah lingkungan. Greenwashing mengurangi popularitas produk yang secara nyata ramah lingkungan dan mengurangi efektivitas green marketing. Saat ini terdapat bisnis lokal di Surabaya yang telah mengusung konsep zero waste, yakni Alang-Alang Zero Waste Store. Selain menghadapi fenomena greenwashing, Alang- Alang Zero Waste Store juga harus menghadapi kompetitor lain di Surabaya yakni Mamaramah Eco Bulk Store yang didirikan hanya setelah tiga bulan Alang-Alang hadir [6]. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi Alang-Alang Zero Waste Store karena pelanggan dihadapkan oleh berbagai pilihan produk yang dapat dijangkau dengan mudah sehingga kemungkinan pelanggan berpindah ke lain merek menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, Alang-Alang Zero Waste Store perlu mengidentifikasi faktor atribut Perbandingan Faktor Atribut pada Toko Nol Limbah di Kota Surabaya: Pendekatan Semantic Differential Annisa Deaneke Prabowo Putri, dan Berto Mulia Wibawa Departemen Manajemen Bisnis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: berto@mb.its.ac.id Z