1 Penyusunan Model Bangkitan Pergerakan Angkutan Barang di Provinsi Kalimantan Timur Development of Freight Trip Generation Model in East Kalimantan Province Triana Sharly P. Arifin 1,a) , Budi Haryanto 1,b) & Utari Nur Ramadhani 1,c) 1) Teknik Sipil, Universitas Mulawarman, Samarinda Koresponden : a) triana.sharly@gmail.com, b) budiharyanto7951@gmail.com & c) tarirmdhn@gmail.com. ABSTRAK Kalimantan Timur merupakan provinsi dengan luas wilayah yang besar. Hal ini kemudian menyebabkan tingkat pergerakan angkutan barang di Provinsi Kalimantan Timur besar pula. Pola pergerakan barang di Provinsi Kalimantan Timur dipengaruhi oleh potensi sumber daya alamnya. Kurangnya perhatian yang diberikan terhadap transportasi barang dalam sistem transportasi di Indonesia khususnya Kalimantan Timur, menyebabkan harga barang yang sangat bervariasi dari tingkat produsen hingga ke tingkat konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model bangkitan pergerakan transportasi angkutan barang dalam Provinsi Kalimantan Timur serta jumlah pergerakannya pada masa yang akan datang. Metode yang digunakan adalah analisis model korelasi berbasis zona metode langkah demi langkah tipe 1. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi statistik SPSS 22. Dari Hasil pemodelan angkutan barang dalam Provinsi Kalimantan Timur, didapatkan model bangkitan yaitu Y= 77.041,534 - 0,001 X1 - 0,397 X5 + 102,167 X12 + 0,035 X13 + 11,399 X14 - 8,407 X16 Dengan nilai koefien korelasi (R) sebesar 0,977 dan nilai koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0,954. Kata Kunci : manajemen infrastruktur jalan, bangkitan pergerakan, angkutan barang, pemodelan transportasi. PENDAHULUAN Transportasi atau pergerakan angkutan barang merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Transportasi angkutan barang berperan penting dalam pembangunan yang merupakan urat nadi kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan. Indonesia memiliki letak geografis yang strategis namun memiliki jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini kemudian menyebabkan tingkat kebutuhan masyarakat akan barang meningkat hampir di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke kabupaten/kota. Besarnya pergerakan angkutan barang di Indonesia dapat direpresentasikan dengan Matriks Asal-Tujuan (MAT) ataupun dengan diagram garis keinginan (desire line). Jaringan Jalan, sebagai aset infrastruktur vital, harus dikelola dengan baik. Oleh karena itu, Jaringan Jalan harus dikelola dengan baik sesuai prinsip Manajemen Aset Infrastruktur. Salah satu prinsip dasar Manajemen Aset Infrastuktur adalah infrastruktur harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur atau permintaan infrastruktur. Jadi pengembangan Jaringan Jalan harus didasarkan pada Permintaan Lalu-Lintas (Suprayitno & Soemitro 2018). brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Center for Scientific Publication