JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA Vol. 14 No. 1 Agustus 2021 ISSN: 1979-8415 E-ISSN: 2714-8025 ANALISIS KORELASI ANTARA POROSITAS DAN FASIES BATUAN KARBONAT (STUDI KASUS DI FORMASI WONOSARI DAN KUBAH BAYAH) Subhan Arif 1 , Nur Widi Astanto Agus Tri Heriyadi 2 , Muhamad Rio Dwi Patra 3 , Nanda Budrianto 4 1,2,3,4 Jurusan Teknik Geologi, Institut Sains & TeknologiAKPRIND Yogyakarta Email: 1 s.arif@akprind.ac.id, 2 nurwidi@akprind.ac.id, 3 muhamadrio20@gmail.com, 4 nandabudrianto@gmail.com Masuk: 15 Januari 2021, Revisi masuk: 23 Januari 2021, Diterima: 3 Agustus 2021 ABSTRACT Carbonate rock is one of rocks that has the potential to become a reservoir rock for petroleum. Unfortunately carbonate rock has a high uncertainty for its porosity value. Porosity is an important aspect of reservoir rock. The aim of this study was to create a correlation model between rock facies and the quality of porosity. The methodology used in this study was taking samples and then it was analyzed using rock sampling to analyze thin sections and rock slabs in the laboratory. The results of the research showed that limestone samples were divided into 2 SMF groups (SMF 8 and SMF 18). They were in the facies zone in the interior platform. The porosity value showed 0.05% - 9.4% (negligible - poor). It can be concluded that there was a weak correlation between SMF and the quality of the limestone porosity, although there were still anomalies as occurred in sample Y3 due to the moldic porosity which increased the number of pores in the sample Keywords: Facies, Limestone, Porosity. INTISARI Batuan karbonat merupakan salah satu batuan yang berpotensi menjadi batuan reservoir minyak bumi. Sayangnya batuan karbonat atau memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi untuk nilai porositasnya. Porositas merupakan aspek penting dari batuan reservoir. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat model korelasi antara fasies batuan dengan kualitas porositas. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel batuan untuk menganalisis bagian tipis dan lempengan batuan di laboratorium. Hasil penelitian adalah sampel batu gamping dibagi menjadi 2 kelompok SMF (SMF 8 dan SMF 18) berada pada zona fasies yaitu pada anjungan interior. Nilai porositas menunjukkan 0,05% - 9,4% (diabaikan- buruk). Kesimpulannya adalah terdapat korelasi yang lemah antara SMF dengan kualitas porositas batugamping, walaupun masih terdapat anomali seperti yang terjadi pada sampel Y3 akibat porositas moldic yang meningkatkan jumlah pori dalam sampel. Kata-kata kunci: Batugamping, Fasies, Porositas. PENDAHULUAN Sumber energi fosil masih mendominasi kebutuhan energi di seluruh dunia. Batuan karbonat merupakan salah satu batuan yang memiliki potensi menjadi reservoir minyak bumi di seluruh dunia. Sayangnya batuan karbonat atau dalam hal ini adalah batugamping memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi untuk nilai porositasnya. Porositas adalah salah satu aspek penting pada batuan reservoir. Nilai porositas akan menentukan seberapa baik batuan tersebut menyimpan minyak dan gas bumi. Penelitian mengenai batu gamping di seluruh dunia telah banyak dilakukan namun masih belum dapat menghasilkan suatu model pasti dari nilai porositas batugamping. Sebagian menilai porositas batugamping dari diagnosisnya dan rekahan yang terjadi akibat proses sekunder Brady dan Thyne (2016), Panza, dkk. (2019). Beberapa batu gamping yang memiliki penyebaran cukup luas adalah di selatan Jawa Tengah yaitu Formasi Wonosari. Batugamping Formasi Wonosari berumur Miosen (Mukti, 2005). Selain itu, batugamping yang juga memiliki umur relatif sama di bagian selatan Pulau Jawa bagian barat adalah batugamping Formasi Cijengkol dan Citarate di daerah Bayah. Batu gamping ini memiliki umur relatif Oligosen sampai Miosen dari hasil analisis biostratigrafi (Arif, 2019). Penelitian ini dilakukan pada dua daerah tersebut untuk membuat suatu model analogi hubungan antara nilai porositas 36