103 Arif, AB et al.: Pendugaan Heterosis dan Heterobeltiosis pada Enam Genotip ... Pendugaan Heterosis dan Heterobeltiosis pada Enam Genotip Cabai Menggunakan Analisis Silang Dialel Penuh Arif, AB 1) , Sujiprihati, S 2) , dan Syukur, M 2) 1) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Jl. Tentara Pelajar 12, Bogor 16114 2) Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor 16680 Naskah diterima tanggal 29 Juli 2011 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 28 Desember 2011 ABSTRAK. Produktivitas cabai di Indonesia sampai saat ini masih rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas cabai yaitu melalui program pemuliaan tanaman. Terdapat beberapa rancangan persilangan untuk memilih tetua dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru, di antaranya rancangan silang dialel. Tujuan penelitian ini ialah memperoleh informasi heterosis dan heterobeltiosis dari kombinasi persilangan enam tetua cabai dan mendapatkan calon hibrida cabai yang unggul. Penelitian dilakukan dari bulan November 2008 sampai dengan Mei 2009 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Institut Pertanian Bogor. Materi genetik yang digunakan ialah enam tetua cabai (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15, dan IPB C 20) serta turunan pertama dari persilangan enam tetua tersebut. Rancangan persilangan yang digunakan yaitu analisis silang dialel penuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C10 dan IPB C10 x IPB C2 mempunyai nilai tinggi dikotomus yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 mempunyai bobot per buah yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Nilai heterosis dan heterobeltiosis pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2, dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter tinggi dikotomus, sedangkan pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter bobot per buah. Calon hibrida yang sesuai dalam program pemuliaan cabai untuk pembentukan varietas unggul ialah populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2. Katakunci: Capsicum annuum; Heterosis; Heterobeltiosis; Dialel ABSTRACT. Arif, AB, Sujiprihati, S, and Syukur, M 2012. Estimating Heterosis and Heterobeltiosis on Six Genotypes of Chili Using Full Diallel Cross Analysis. Until now productivity of chili in Indonesia is still low. An effort to increase productivity of the chili is by breeding program. There are several cross designs to choose inbred lines in producing new superior varieties, including the design of crossing diallel. The aims of this research were to obtain heterosis and heterobeltiosis information from crossing combination of six inbred lines and gain candidate of superior chili hybrids. The research was conducted from November 2008 till May 2009 at Leuwikopo Experimental Garden, Bogor Agricultural Institute. Genetic materials used in the study were six inbred lines of chili i.e. IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15, and IPB C20 and F1 of the hybridization of combination of six inbred lines. The crossing design used in the experiment was full diallel cross analysis. The results showed that population of F1 resulted from crossing of IPB C2 x IPB C10 and IPB C10 x IPB C2 had high dichotomous that were relatively higher than other hybrids. The population of F1 obtained from crossing IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 indicated weight per fruit that were relatively higher than other hybrids. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 of IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2, and IPB C14 x IPB C2 were positive on high dichotomous characters. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 were positive on weight per fruit characters. The population of F1 that were appropriate used in breeding program to make superior varieties were hybrids of IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2. Keywords: Capsicum annuum; Heterosis; Heterobeltiosis; Diallel Cabai merupakan tanaman hortikultura kelompok sayuran buah yang sangat penting di Indonesia (Djawarningsih 2005). Produksi cabai tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010 berturut-turut yaitu 1,128; 1,153; 1,378; dan 1,332 juta t (Badan Pusat Statistik 2010). Hingga kini produksi tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan cabai dalam negeri, rerata produktivitas cabai di Indonesia 5,5 t/ha, sedangkan menurut Bahar & Nugrahaeni (2008) potensi hasil yang dapat dicapai ialah 17–21 t/ha. Faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai di Indonesia di antaranya ialah terbatasnya jumlah varietas yang berdaya hasil tinggi dan rentannya varietas terhadap serangan hama penyakit. Terdapat beberapa rancangan persilangan untuk memilih tetua dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru, di antaranya rancangan silang dialel. Rancangan ini terbukti dapat membantu pemulia cabai untuk memilih materi pemuliaan, berupa pasangan galur-galur inbred yang menghasilkan kombinasi terbaik yang memiliki sifat heterosis (Sousa & Maluf 2003). Rancangan persilangan dialel ialah seluruh kombinasi persilangan yang mungkin dapat dilakukan dari sekelompok genotip, termasuk tetua itu sendiri beserta F1 turunannya. Rancangan silang dialel ini harus memenuhi beberapa asumsi berikut (1) segregasi diploid; (2) tidak ada perbedaan antara F1 dengan resiproknya atau tidak ada efek maternal; (3) tidak ada interaksi antara gen-gen yang tidak satu alel/epistasis; (4) tidak ada multialelisme; (5) tetua homozigot; dan (6) gen-gen menyebar secara bebas di antara tetua (Sujiprihati et al. 2007). J. Hort. 22(2):103-110, 2012