407 CDK-306/ vol. 49 no. 7 th. 2022 Alamat Korespondensi email: LAPORAN KASUS ABSTRAK Latar Belakang: Populasi lanjut usia berisiko mengalami defsiensi vitamin D akibat beragam faktor, seperti kurangnya suplementasi dan gaya hidup, serta obesitas. COVID-19 merupakan penyakit infeksi dengan morbiditas dan mortalitas global. Beberapa studi terkait COVID-19, salah satunya meneliti potensi vitamin D sebagai proteksi terhadap COVID-19. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan derajat keparahan pasien COVID-19 pada dewasa dan lanjut usia. Metode: Kami menelusuri database PubMed, Cochrane, EBSCOhost, dan Scopus untuk mencari dan menyaring studi dalam bentuk kohort. Selanjutnya beberapa artikel dengan isu serupa dianalisis menggunakan instrumen prognosis dari Oxford Centre for Evidence Based Medicine. Hasil: Didapatkan dua studi kohort prospektif yang lolos seleksi, yakni studi Baktash, dkk. (2020) dan Campi, dkk. (2021). Keduanya menunjukkan kadar vitamin D rendah berhubungan dengan prognosis klinis dan marka infamasi yang lebih buruk pada kasus COVID-19 dewasa dan lanjut usia (p<0,05). Simpulan: Kadar vitamin D rendah berisiko marka infamasi ataupun prognosis klinis lebih buruk pada pasien COVID-19 dewasa dan lanjut usia. Kata Kunci: COVID-19, kadar vitamin D, prognosis ABSTRACT Background: Elderlies as well as adults are high-risk populations for vitamin D defciency, caused by lack of supplementation, lifestyle, or obesity. COVID-19 is an infectious disease with global morbidity and mortality. Some studies showed vitamin D’s potential for protection against COVID-19. Objective: This evidence- based case report was to investigate the association between vitamin D levels with COVID-19 severity in adult and elderly patients. Method: Database such as PubMed, Cochrane, EBSCOHost, and Scopus were explored to search and flter relevant cohort studies. Articles with similar issue were analyzed with prognosis instrument from Oxford Centre for Evidence Based Medicine. Result: Two prospective cohort studies from Baktash, et al, (2020) and from Campi, et al, (2021) fulflled the requirements. Both studies showed that low vitamin D levels was related to worse clinical prognosis and infammation markers in COVID-19 cases (p<0.05). Conclusion: Low vitamin D levels were related to poorer clinical prognosis or COVID-19 infammation markers in adult and elderly COVID-19 patients. Stella Andriana Putri, Edy Rizal Wahyudi. The Correlation between Vitamin D Level with Clinical Severity among Adult and Elderly COVID-19 Patients Keywords: COVID-19, prognosis, vitamin D level PENDAHULUAN Ilustrasi Kasus Seorang wanita berusia 64 tahun datang ke IGD karena mengeluh sesak napas sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan sesak napas dirasakan sepanjang hari, membaik jika tidur dengan posisi setengah duduk, dan menggunakan oksigen 3-4 liter per menit lewat selang hidung. Keluhan sesak napas disertai batuk. Batuk dirasakan seperti ada dahak yang tertahan; namun tidak keluar saat dibatukkan. Keluhan batuk tidak mengganggu aktivitas. Batuk juga disertai nyeri tenggorokan. Keluhan lain adalah demam ringan namun tidak diukur suhunya, sejak sekitar lima hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien masih bisa makan dan minum dengan baik, mobilitas masih normal namun karena perawakan tubuhnya yang besar, pasien mudah terengah-engah saat berjalan agak jauh. Pasien memiliki penyakit diabetes melitus sejak sekitar lima tahun, jarang kontrol namun rutin minum metformin 2 x 500 mg sesudah makan siang dan malam, serta glimepiride 1 x 2 mg setiap pagi. Pasien tinggal serumah dengan suami yang berusia 65 tahun dan anak yang baru diketahui terkonfrmasi positif COVID-19. Suami pasien tidak bergejala. Karena khawatir terkena COVID-19, pasien menghentikan semua terapi diabetes dan menggantinya dengan obat-obatan dari telemedicine, yakni vitamin C 1.000 mg, vitamin D 5.000 IU, dan zinc. Karena keluhan dirasakan tidak membaik, pasien memutuskan untuk berobat dan isolasi di rumah sakit. Pemeriksaan swab antigen di rumah sakit hasilnya positif. Pemeriksaan lanjutan sesuai arahan dokter spesialis adalah pemeriksaan radiologi serta laboratorium darah, glukosa, faktor infamasi dan koagulasi, serta kadar vitamin D. Pasien menanyakan alasan mengapa perlu diperiksa kadar vitamin D darah dan menanyakan hubungan pemeriksaan tersebut dengan COVID-19. Latar Belakang Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Coronavirus baru, yaitu severe acute respiratory syndrome-coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Penyebaran COVID-19 sangat cepat, hingga stella.ap23@gmail.com Stella Andriana Putri, 1 Edy Rizal Wahyudi 2 1 Departemen Ilmu Penyakit Dalam, 2 Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Laporan Kasus Berbasis Bukti