LOGIKA, Desember 2018, XXII (3): 1-13 Umiyati, et al. Pengaruh Berbagai Jenis..... 1 Pengaruh Berbagai Jenis Herbisida dan Dosis Herbisida Terhadap Gulma pada Tanaman Karet (Havea brasiliensis) Belum Menghasilkan Uum Umiyati, Dedi Widayat dan Mammi Sarticha Siregar Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Email korespondensi: umiyati.crb@gmail.com Abstrak Gulma pada pertanaman karet belum menghasilkan (TBM) memberikan dampak merugikan seperti kompetisi, terganggunya proses budidaya dan penurunan masa sadap karet. Kerugian akibat gulma dapat diatasi dengan berbagai cara salah satunya dengan pengendalian kimia (menggunakan herbisida). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh herbisida campuran ammonium glufosinate 150 g/l + indaziflam 500 g/l terhadap pengendalian gulma pada budidaya Tanaman Karet TBM. Percobaan dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai Februari 2018 di Desa Mandalasari, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari 1) kontrol, 2) herbisida campuran Ammonium Glufosinat+ Indaziflam 257 g/l dosis 514 g ba ha - 1 , 3) dosis 771 g ba ha -1 , 4) dosis 1020 g ba ha -1 , 5) herbisida campuran Ammonium Glufosinat 150 g/l+ Indaziflam 500 g/l doisis 495 g ba ha -1 + indaziflam 15 g ba ha -1 , 6) dosis ammonium glufosinate 750 g ba ha -1 Ammonium Glufosinat + indaziflam dosis 22,5 g ba ha -1 7) penyiangan manual, 8) herbisida tunggal ammonium glufosinate dosis 495 g ba ha -1 , 9) herbisida tunggal ammonium glufosinate dosis 750 g ba ha -1 , 10) herbisida tunggal paraquat dosis 828 g ba ha -1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida berbahan aktif ammonium glufosinate + indaziflam 257 g/l dengan dosis 2 l/ha (514 g ba ha -1 ) mampu mengendalikan pertumbuhan gulma (Ageratum conyzoides, Borreria alata, Asystasia intrusa, Synedrella nodiflora, Axonopus compressus) dan gulma lainnya pada pertanaman karet TBM (3 tahun) sampai 12 MSA. Kata kunci: Karet, gulma, dosis, herbisida, ammonium glufosinate, indaziflam, paraquat LATAR BELAKANG Tanaman karet (Havea brasiliensis) termasuk dalam famili Euphorbiacea, karet juga mempunyai nama lain seperti rambung, getah, gota, kejai ataupun hapea. Karet merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi, karena karet menjadi sumber devisa non migas. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar disektor pertanian karet khususnya disektor perkebunan, yang sebagian besarnya ditanam di Kalimantan dan Sumatra. Luas perkebunan karet di Sumatra sekitar 2,3 juta/ha atau 67,6% total luas perkebunan karet indonesia. Produksi karet di Indonesia berkisar 28% dari produksi karet dunia tahun 2010, dan lebih tinggi dari Thailand berkisar 30% (Direktorat Jendral Pertanian, 2012). Luas area perkebunan karet Indonesia mencapai 3.639.695 hektar dengan produksi total sebesar 3.157.785 ton. Sedangkan produksi perkebunan rakyat sebesar 3.072.769, perkebunan besar negara 231.707 dan perkebunan besar swasta sebesar 335.219 (Badan Pusat Statistik, 2015). Peningkatan produktivitas perkebunan karet Indonesia sejak tahun 1983 hingga sekarang sudah mulai membaik, hal ini diakibatkan dari adanya perhatian pemerintah terhadap peremajaan tanaman karet dengan menggunakan klon- klon unggul anjuran dan perbaikan ekonomi petani karet. Sedangkan pada