ad-Dawaa’J.Pharm.Sci. Vol. 1 No. 2, Desember 2018 85 Efek Antihiperglikemik Fraksi-Fraksi Daging Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) pada Tikus Putih Jantan Antihyperglycemic Effect of Noni Fruit Flesh (Morinda citrifolia L.) Fractions in Male White Mice Mukhriani 1 , Afrisusnawati Rauf 1 , Indah Purnamasari MS 2 1 Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar Jl. HM Yasin Limpo No. 36 Samata Kab. Gowa 2 Mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar Jl. HM Yasin Limpo No. 36 Samata Kab. Gowa Kontak sur-el: fm.tetty@gmail.com ABSTRAK Penelitian efektivitas antihiperglikemik dari fraksi daging buah mengkudu ( Morinda citrifolia L.) pada tikus putih jantan yang diinduksi dengan glukosa 50% telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan efek fraksi varian hasil daging buah mengkudu 1000 mg/kg BB terhadap tikus hiperglikemia. Kadar glukosa darah diukur 0, 30, 60, dan 90 menit setelah perlakuan. Penelitian menunjukkan bahwa fraksi A memiliki efek antihiperglikemik tertinggi dengan laju penurunan glukosa darah 55,77%, mirip dengan glibenclamide sebagai tikus kontrol positif dengan laju penurunan glukosa darah 60,06%. Kata Kunci : Hiperglikemik, Morinda citrifolia L., Gula Darah, Glukometer ABSTRACT Research of antihyperglycemic effectiveness of fractions of noni fruit flesh (Morinda citrifolia L.) on white male rats that was induced with glucose 50% had been conducted. The objective of the research was to identify the effectiveness of variant fractions result of noni fruit flesh 1000 mg/kg BW towards hyperglycemia rats. Glucose blood level measured 0, 30, 60, and 90 minutes after treatment for. The research showed that fraction A had the highest antihyperglycemic effect with blood glucose reduction rate 55,77%, similar with glibenclamide as the positive control rats with blood glucose reduction rate 60,06%. Keywords: Hyperglycemic, Morinda citrifolia L., Blood Glucose, Glucometer. PENDAHULUAN Peningkatan penggunaan obat dari tanaman berkhasiat akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini sejalan dengan kecenderungan back to nature yang menjadi fenomena beberapa tahun terakhir sebagai upaya pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit dengan cara tradisional . Namun, penggunaan tumbuhan baik untuk kesehatan, bahan makanan, bumbu dapur, kosmetik maupun sebagai bahan ramuan untuk upacara ritual keagamaan sebenarnya telah dikenal sejak zaman kuno dan ditemukan dalam berbagai catatan bangsa Cina, Mesir, Yunani serta Roma (Wiryowidagdo, 2008). Dewasa ini masyarakat terutama di Indonesia lebih memahami akan manfaat yang diperoleh dari pemanfaatan tanaman, sehingga banyak yang beralih ke pengobatan brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar