Jurnal Sosialisasi Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian, dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Vol. 10, Nomor 1, Maret 2023 I Ketut Yakobus, Rinto Z.W. Abidjulu, Yuyun Alfasius Tobondo, Feliks Arfid Guampe| 79 Analisis Penanganan Teroris Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Pasca Konflik Di Kabupaten Poso I Ketut Yakobus, Rinto Z.W. Abidjulu 1 , Yuyun Alfasius Tobondo 2 , Feliks Arfid Guampe 3 1 Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Tentena 2 Prodi Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Tentena 3 Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Tentena ketut.yakobus@gmail.com; rinto.aba@gmail.com 1 , alfa.trumpp@gmail.com 2 , feliksguampe@gmail.com 3 ABSTRAK Lambatnya proses penanganan dan penegakan hukum terhadap kelompok Terorisme Mujahadin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Poso memicu kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil dan aparat keamanan. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis model penanganan teroris kelompok MIT yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah. 3) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis penyebab lambatnya penanganan teroris kelompok MIT. 3) Untuk menemukan model yang efektif dan efisien dalam penanganan kelompok teroris MIT. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 15 orang yang masing-masing merupakan perwakilan Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, dan masyarakat. Penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model penanganan teroris kelompok Mujahidin Hindia Timur pasca konflik di Kabupaten Poso lebih mengutamakan pendekatan militer hard power dan tidak partisipatif. Dominasi militer dalam penanganan terorisme pascakonflik Poso telah menimbulkan rasa ketergantungan yang sangat tinggi terhadap aparat keamanan. Selain itu, penanganan terorisme oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur juga bersifat represif, dalam artian aparat keamanan akan menindak jika terjadi tindak kekerasan atau pembunuhan yang dilakukan oleh Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur terhadap warga sipil maupun terhadap aparat keamanan yang sementara menjalankan tugasnya. Model pendekatan yang perlu diperhatikan dalam penanganan terorisme kelompok Mujahidin Indonesia Timur pasca konflik di Kabupaten Poso adalah model Hybrid. Pemilihan pada model Hybrid karena model ini bersifat soft power, preventif dan partisipatif. Kata Kunci: Terorisme; Mujahidin Indonesia Timur; Hibrida. ABSTRACT The slow process of handling and enforcing the law against the East Indonesia Mujahadin Terrorism (MIT) group in Poso Regency has triggered violence and killings of civilians and security forces. The objectives of this study are: 1) To identify and analyze the model of handling terrorists of the MIT group that has been carried out by the Government. 3) To identify and analyze the causes of the slow handling of MIT group terrorists. 3) To find an effective and efficient model in the handling of the MIT terrorist group. The research approach used in this study is descriptive qualitative with the number of informants of 15 people, each of whom is a representative of the Government, religious leaders, community leaders, NGOs, and the community. Determination of informants is carried out by purposive sampling. Meanwhile, data collection is carried out by means of observation, in-depth interviews, and documentation. The results showed that the model of handling terrorists of the East Indinesian Mujahideen group after the conflict in Poso Regency prioritized a hard power military approach and was not participatory. The military's dominance in the handling of terrorism after the Poso conflict has created a very high sense of dependence on the security forces. In addition, the handling of terrorism by the East Indonesia Mujahideen group is also repressive, in the sense that the security forces will act in the event of acts of violence or killings committed by the East Indonesia Mujahideen Terrorist Group against civilians and against security forces who are temporarily performing their duties. The approach model that needs to be considered in handling terrorism of the East Indonesia Mujahideen group after the