62 NIRMANA, Vol. 20, No. 2, Juli 2020, 62-71 DOI: 10.9744/nirmana.20.2.62-71 ISSN 0215-0905 print / ISSN 2721-5695 online Perancangan Ilustrasi sebagai Edukasi tentang Polusi Akibat Limbah Cair Produksi Fashion Annetta Dewi Wijaya 1* , Obed Bima Wicandra 2 , Asthararianty 3 1,2,3 Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra, Jl. Siwalankerto No.121-131 Surabaya * Penulis korespondensi; E-mail: annettadw13@gmail.com Abstrak Meski dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, fashion sebagai sebuah industri memiliki dampak yang sangat buruk pada lingkungan. Khususnya tahapan produksi fashion yaitu dyeing menghasilkan banyak sekali limbah cair yang mencemari perairan, sehingga berdampak buruk pada hewan dan tanaman, dan juga bisa menimbulkan penyakit pada manusia. Tapi masyarakat masih kurang tahu dan tidak peduli terhadap masalah ini sehingga mengonsumsi fashion tanpa dipikirkan dahulu. Perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat sehingga mendorong mereka untuk mengubah kebiasaan konsumsi fashion-nya. Kata kunci: Ilustrasi, Komik, Polusi, Fesyen. Abstract Although essential to everyday life, fashion as an industry has terrible effects on the environment. In particular, the dyeing stage of fashion production produces a huge amount of liquid waste that pollutes water, hence having a bad impact on aquatic life, as well as causing various diseases in humans. However, people still do not know and care much about the topic, and so they consume fashion without careful consideration. This design is aimed to increase people’s concern to push them to change their habits in fashion consumption. Keywords: Illustration, Comic, Pollution, Fashion. Pendahuluan Fashion merupakan sebuah bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, sebagai sebuah industri fashion juga memiliki dampak negatif yang sangat besar terhadap lingkungan hidup. Dari produksi bahan mentahnya hingga produksi pakaian, sampai setelah pakaian tersebut selesai di- pakai, industri ini menghasilkan limbah dalam jumlah yang sangat banyak, dan berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan. Thomas (2019) menyatakan bahwa estimasi dari The World Bank menyatakan bahwa sektor industri fashion ini bertanggung jawab akan hampir 20% polusi air dari limbah seluruh industri setiap tahunnya. Pencemaran air ini berupa dampak dari proses pengolahan tekstil. Dari semua proses pengo- lahan, yang menjadi fokus utama dalam pro- duksi pakaianadalah pewarnaan kain (dyeing). Hethorn & Ulasewicz (2015) menyatakan hal ini karena dyeing adalah cara paling mudah, murah dan pasti untuk mengubah penampilan pakaian agar menarik perhatian konsumen. Akibatnya, dyeing tentu hampir selalu dilaku- kan dalam pengolahan kain. Proses pewarnaan kain adalah mencelupkan kain ke dalam air berisi dye agar bereaksi dan diserap oleh fiber kain. Seberapa banyak reaksi ini disebut dengan istilah fixation . Hal ini bergan- tung kepada berapa banyak dye yang benar- benar terserap dalam kain setelah pencucian (Koul, 2008), sedangkan dye yang masih tersisa men-jadi limbah cair. Limbah berupa 200.000 ton pewarna kain dibuang ke sungai dan laut setiap tahunnya ( Fashion’s Environmental Impact , 2017). Proses dyeing menghasilkan bahan kimia dalam limbah cair yang sering- kali dibuang tanpa diolah terlebih dahulu. Beberapa dari bahan kimia yang terkandung di dalamnya beracun atau berbahaya untuk manusia. Hal ini terutama berlaku untuk pewarna sintetis. Thomas (2019) menyatakan contohnya dalam pembuatan indigo sintetis, yang biasa- nya digunakan untuk mewarna kain denim. Bebe-rapa pabrik di Cina memproduksi seba- gian besar dari dye indigo sintetis yang diguna-