| 13 Sekolah Kedokteran Hewan & Biomedis IPB - Asosiasi Rumah Sakit Hewan Indonesia ARSHI Vet Lett, 2023, 7 (1): 13-14
Maserasi fetus sebagian pada kambing peranakan etawa
Rini Widyastuti
1
*, Rangga Setiawan
1
, Mokhamad Fakhrul Ulum
2
1
Laboratorium Reproduksi dan Inseminasi Buatan, Departemen Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Pad-
jadjaran, Bandung
2
Divisi Reproduksi dan Kebidanan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Institut Pertanian Bogor, Bogor
ABSTRAK: Maserasi fetus adalah kondisi patologis selama masa kebuntingan ditunjukkan dengan adanya kematian janin
diikuti dengan proses pembusukan dan penghancuran jaringan fetus. Maserasi fetus pada laporan kasus kali ini terjadi pada
induk kambing peranakan etawa yang menjadi resepien program sinkronisasi birahi dan inseminasi buatan (IB). Hasil
pemeriksaan ultrasonografi dan palpasi abdomen pada kambing menunjukkan tanda kebuntingan 3 bulan pasca IB. Namun
hingga bulan ke 7 tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kelahiran. Hasil pemeriksaan fisik terlihat pembesaran abdomen dan
teraba janin pada palpasi abdominal, akan tetapi pada vulva terdapat leleran darah dan nanah. Terapi dengan penyuntikan
hormon PGF2α dilakukan untuk mendilatasi servik dan kontraksi myometrium sehingga janin dapat keluar. Kondisi janin
yang keluar tampak abdominal hingga ekstremitas caudal sudah membusuk dan lisis. Induk kambing PE didiagnosa mengala-
mi maserasi sebagian pada fetus. Terapi pada induk dilanjutkan dengan pemberian antibiotik dan multivitamin.
Kata kunci:
bunting, kambing, peranakan etawa, maserasi, hormon PGF2α
■ PENDAHULUAN
Kebuntingan merupakan salah satu indikator keberhasilan
dalam program budidaya ternak. Lama kebuntingan pada
kambing adalah 151 hari atau sekitar 5,3 bulan, dan ke-
matian fetus dapat terjadi sepanjang masa kebuntingan ter-
sebut (Givens & Marley 2008). Kematian fetus dapat
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme pathogen seperti
Chlamydophila abortus, Brucella militensis, Salmonella
abortus-ovis, Campylobacter spp (Mobini et al. 2002) dan
Toxoplasma gondii (Mobini 2007). Fetus yang mati akan
mengalami abortus dalam 24-72 jam pasca kematian atau
tetap bertahan di dalam uterus dan mengalami shrinkage
kemudian diabsorsi (mumifikasi fetus) hingga terjadi autol-
ysis (maserasi fetus). Proses kelahiran janin yang telah mati
tergantung pada mekanisme sinyal fetomaternal antara uter-
us, ovarium dan kelenjar pituitary (Mobini et al. 2002).
Maserasi fetus merupakan kondisi disintegrasi fetus yang
mati setelah proses pembentukan tulang. Fetus yang men-
galami kematian, namun tetap bertahan di dalam uterus
karena terjadi dilatasi servik parsial, inertia uteri atau tubuh
fetus mengering sehingga menyebabkan retensi di dalam
rahim (Drost 2007). Invasi bakteri pada fetus mati akan
membentuk emfisema, terjadi maserasi dalam 3-4 hari dis-
ertai dengan pembentukan pus dalam jumlah banyak dan
pemisahan jaringan dalam waktu 24-48 jam kemudian (Pu-
rohit et al. 2006). Kasus maserasi fetus sering terjadi pada
sapi dan kerbau, namun sangat jarang dijumpai pada rumi-
nansia kecil (Ajitkumar et al. 2007). Tulisan ini bertujuan
mengevaluasi secara klinis induk kambing peranakan etawa
(PE) yang menunjukkan gejala maserasi fetus.
■ KASUS
Sinyalemen: Kambing betina PE umur 3 tahun, milik pe-
ternak di Kelompok Tani “Simpay Tampomas” Sumedang
sebagai resepien program Sinkronisasi Estrus (SE) dan
dilanjutkan Inseminasi Buatan (IB). Anamnesa: Minggu
ke-1 dilakukan pemeriksaan fisik, pemberian vitamin dan
deworming. Minggu berikutnya dilakukan prosedur sink-
ronisasi estrus dengan penyuntikan hormon PGF2α double
dosis dengan jarak 12 hari. Kambing menunjukkan gejala
birahi 48 jam pascainjeksi PGF2α yang kedua, dilakukan IB
sebanyak 2 kali dengan jarak 24 jam antara IB I dengan IB
II menggunakan semen cair dengan dosis 25 juta sper-
ma/ml. Kambing tidak menunjukkan gejala estrus pada
siklus berikutnya. Bulan ke-3 dilakukan pemeriksaan ke-
buntingan dengan palpasi abdomen dan ultrasonografi tam-
pak tanda kebuntingan (Gambar 1A). Bulan ke-5 induk
kambing tidak menunjukkan tanda-tanda kelahiran. Gejala:
Kambing bunting tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda
melahirkan pada akhir kebuntingan. Abdomen tampak
membesar, mukosa pucat, dan nafsu makan berkurang. Ter-
dapat leleran darah dan nanah pada vulva berbau busuk
(Gambar 1B). Pemeriksaan Fisik: Palpasi abdominal tera-
ba janin di dalam rahim. Diferensial Diagnosa: mumifikasi
fetus, kematian fetal. Diagnosa: Maserasi fetus. Prognosa:
dubius-fausta. Terapi: Induksi aborsi menggunakan hor-
mon PGF2α, dilanjutkan antibiotik dan multivitamin.
ISSN 2581-2416
DOI: https://dx.doi.org/10.29244/avl.7.1.13-14
https://journal.ipb.ac.id/index.php/arshivetlett
Veterinary Letters
Diterima: 11-01-2023 | Direvisi: 15-02-2023 | Disetujui: 20-02-2023
© 2023 CC-BY-SA. Ini adalah artikel Open Access yang didistribusikan ber-
dasarkan ketentuan dari Creative Commons Attribution ShareAlike 4.0 Interna-
tional License (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).