Vol. 10 No. 1, Februari 2022 Ar-Razi Jurnal Ilmiah ISSN. 2503-4448 47 PENGARUH VARIASI KONSENTRASI TIOSULFAT DALAM PROSES EKSTRAKSI EMAS ASAL KABUPATEN SANGGAU KALIMANTAN BARAT Septami Setiawati 1) , Wahdaniah Mukhtar 1) , Ricka Aprillia 1) , Govira C. Asbanu 2) 1) Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Tanjungpura 2) Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura Jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak email : septami@untan.ac.id ABSTRAK Penggunaan sianida dalam proses ekstraksi emas telah banyak ditinggalkan oleh negara lain sebab sifatnya yang toksik dan permasalahan lainnya. Namun saat ini, reagen tersebut masih digunakan di Kalimantan Barat dan daerah lainnya di Indonesia untuk mengekstraksi emas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini telah dilakukan eksperimen pelindian emas menggunakan reagen alternatif sianida yang relatif lebih aman, yaitu amonia tiosulfat (Cu(II)-NH3-S2O3 2- ). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik sampel bijih emas dari desa Malenggang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat dan mengkaji pengaruh variasi konsentrasi tiosulfat terhadap perolehan emas dalam proses pelindian. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu preparasi sampel dan bahan kimia, karakterisasi sampel, dan eksperimen pelindian sampel biji emas dengan variasi konsentrasi tiosulfat. Karakterisasi sampel bijih menggunakan AAS menunjukkan bahwa sampel mengandung Au (emas) sebesar 5 ppm. Hasil XRF menunjukkan bahwa sebagian besar sampel tersusun dari SiO2 (52,04%), CaO, dan Fe2O3. Berdasarkan analisis XRD, sampel diketahui mengandung beberapa mineral turunan pirit (FeS2) seperti argentopirit (AgFe2S3), arsenopirit (FeAsS), dan kalkopirit (CuFeS2). Perolehan Au tertinggi sebesar 77,13% pada pelindian dengan menggunakan natrium tiosulfat 0,6 M pada jam ke-0, di mana ore dipisahkan dari larutan tiosulfat segera setelah dicampurkan. Perolehan emas meningkat bersama dengan peningkatan konsentrasi tiosulfat sebagai leaching agent. Nilai pH larutan dan recovery emas menurun seiring dengan waktu pelindian. Kata kunci: ekstraksi emas, pelindian amonia tiosulfat, variasi konsentrasi. ABSTRACT The use of cyanide in the gold extraction process has been banned by other countries because of its toxic nature and the other underlying problems. However, the reagent is still being used in West Kalimantan and other regions in Indonesia to extract gold. Therefore, in this study, leaching experiment of gold ore from West Kalimantan has been carried out using a safer alternative of cyanide, i.e., ammoniacal thiosulfate (Cu(II)-NH3- S2O3 2- ). The purpose of this study is to analyze the characteristics of gold ore sample from Malenggang Village, Sekayam District, Sanggau Regency, West Kalimantan and to assess the effect of variations in thiosulfate concentration on gold recovery in the leaching process. This study consists of three stages, i.e., sample and chemicals preparation, sample characterization, and leaching experiments of gold ore with varying thiosulfate concentrations. Characterization of ore sample using AAS shows that the sample contains 5 ppm of Au (gold). Analysis using XRF reveals that the sample is dominated by SiO2 (52.04%), CaO, and Fe2O3. The sample also contain pyrite (FeS2) and its derivatives: argentopyrite (AgFe2S3) and arsenopyrite (FeAsS) according to the XRD result. The highest Au gained from the leaching process is 77.13% using 0.6 M