9 Peningkatan Kreativitas Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Geografi melalui Model Blended Learning di Sekolah Menengah Atas Noor Liana Waty 1 , Sumarmi 2 , Singgih Susilo 2 1,2 Pendidikan Geografi-Pascasarjana Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 27-11-2017 Disetujui: 15-01-2018 Abstract: The process of developing the activity and creativity of learners can be achieved through various learning interactions. This research aims to improve students' learning creativity through blended learning model. The method used in this research is classroom action research. Instrument of data collection using observation sheet to 30 students of class XI IPS 2. Technique of data analysis using descriptive quantitative. The results showed the average response of creativity in the first cycle of 54.58% and in the second cycle of 76%. Based on these results can be concluded that learning geography using blended learning model can improve students' learning creativity. Abstrak: Proses mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik dapat dicapai melalui berbagai interaksi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas belajar peserta didik melalui model blended learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi terhadap 30 orang peserta didik kelas XI IPS 2. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan respon rata-rata kreativitas pada siklus I sebesar 54,85% dan pada siklus II sebesar 75,95%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran geografi menggunakan model blended learning dapat meningkatkan kreativitas belajar peserta didik. Kata kunci: blended learning; learning creativity; kreativitas belajar Alamat Korespondensi: Noor Liana Waty Pendidikan Geografi Pascasarjana Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: noorlianawaty@gmail.com Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu proses penambahan informasi serta kemampuan baru bagi peserta didik. Penyampaian informasi dengan cara yang tepat menjadikan pembelajaran menjadi mudah dan menyenangkan, termasuk dalam mata pelajaran geografi. Sumarmi (2015:3) menyebutkan bahwa seorang guru geografi harus memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran, termasuk di dalamnya memanfaatkan sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektivitas pembelajaran. Ketika pelajaran geografi masih dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang menantang, sulit atau kadang membosankan oleh sebagian besar peserta didik, maka perlu dipikirkan model pembelajaran yang dapat memberikan kesan yang mudah dan menyenangkan. Model yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan perkembangan yang ada. Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah cara mengembangkan aktivitas serta kreativitas peserta didik melalui berbagai interaksi dalam belajar. Keaktifan peserta didik dalam belajar merupakan salah satu unsur esensial yang sangat penting bagi keberhasilan sebuah proses pembelajaran. Menurut Sardiman (2001:16) keaktivan adalah kegiatan dalam bentuk fisik maupun mental, di mana saat seseorang berbuat dan berpikir disebut sebagai suatu rangkaian yang terpadu. Belajar dianggap berhasil jika seseorang melalui berbagai macam aktivitas, baik fisik maupun psikis. Aktivitas fisik diartikan sebagai kegiatan yang memicu keaktivan anggota badan, seperti membuat sesuatu, bermain atau bekerja, bukan kegiatan yang hanya duduk diam, mendengarkan, melihat atau disebut sebagai pasif. Peserta didik dikatakan aktif secara psikis yaitu jika daya dan jiwanya bekerja penuh atau banyak dimanfaatkan dalam hal pembelajaran. Salah satu masalah klasik dalam pembelajaran geografi yaitu rendahnya kreativitas belajar peserta didik. Proses pembelajaran di sekolah masih sering lebih berpusat kepada guru. Pembelajaran biasanya lebih menekankan pada aspek pengetahuan, sedangkan sikap dan keterampilan peserta didik kurang diperhatikan. Peserta didik hanya mengetahui materi pembelajaran saja tanpa mengalami atau memaknai pembelajaran itu sendiri, dalam hal ini terlihat kurangnya pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Alfi, Sumarmi, dan Amirudin (2016:597) menyatakan bahwa pembelajaran saat ini lebih memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir aktif. Beberapa model pembelajaran yang interaktif sangat diperlukan sebagai solusi Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 3 Nomor: 1 Bulan Januari Tahun 2018 Halaman: 9—14