al-Kimiya, Vol. 6, No. 1 (9-14) Juni 2019/Syawwal 1440 H 9 SIFAT ANTIBAKTERI DARI DAUN Tephrosia vogelii TERHADAP VIBRIOSIS ERI BACHTIAR 1 , YANA MAOLANA SYAH 2 , DAN LIA DEWI JULIAWATY 2 1 Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, Jl. Raya Bandung-Sumedang KM 21, Jatinangor, Sumedang 2 Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No. 10, Lb. Siliwangi, Coblong, Kota Bandung *alamat email korespondensi: e.bachtiar@unpad.ac.id Informasi Artikel Abstrak/Abstract Riwayat Naskah : Diterima pada 12 April 2019 Diterima setelah direvisi pada 4 Juli 2019 Diterbitkan pada 5 Juli 2019 Kata Kunci: Udang windu; Vibriosis; Vibrio alginolitycus; Vibrio harveyi; Tephrosia vogelii. Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sumber andalan dalam produksi pembangunan perikanan di Indonesia. Udang merupakan salah satu komoditas unggulan utama dalam menunjang produksi pendapatan devisa non migas. Untuk mencapai target produksi sesuai dengan yang diharapkan, berbagai permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain kegagalan produksi akibat penyakit oleh bakteri Vibrio, sehingga penyakit ini dikenal sebagai ‘vibriosis’. Salah satu pencarian senyawa yang bersifat antibakteri adalah dengan cara melakukan penapisan terhadap senyawa-senyawa alam. Salah satu sumber senyawa alam adalah dari tumbuhan Tephrosia vogelii. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa dari tumbuhan T. vogelii sebagai sumber senyawa antibakteri terhadap dua bakteri Vibrio yaitu Vibrio alginolitycus dan Vibrio harveyi. Bahan ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut aseton, sementara uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar secara in vitro. Deguelin dan tefrosin kemudian diisolasi dari ekstrak aseton daun T. vogelii. dengan metode difusi agar senyawa deguelin memberikan nilai inhibisi 6,3 mm terhadap V. harveyi dan 6,2 mm terhadap V alginolitycus. Sedangkan tefrosin memberikan nilai inhibisi 6,3 mm terhadap V. harveyi dan 6,6 mm terhadap V alginolitycus. Ini adalah evaluasi antibakteri pertama dari deguelin dan tefrosin terhadap dua bakteri yang diuji. Keywords: Tiger shrimp; Vibriosis; Vibrio alginolitycus; Vibrio harveyi; Tephrosia vogelii. The marine and fisheries sector is one of the mainstay sources in fisheries development production in Indonesia. Shrimp is one of the main leading commodities in supporting the production of non-oil foreign exchange income. To achieve the production target as expected, various problems hinder efforts to increase production, including production failure due to disease by Vibrio bacteria, so this disease is known as 'vibriosis'. One of the searches for compounds that are antibacterial is by screening natural compounds. One source of natural compounds is from the plant Tephrosia vogelii. This study aims to identify and isolate compounds from plant T. vogelii as a source of antibacterial compounds against two Vibrio bacteria namely Vibrio alginolitycus and Vibrio harveyi. The extract material was made by maceration method using acetone solvents, while the antibacterial test was carried out by agar diffusion method in vitro. Deguelin and tefrosin were then isolated from the acetone extract of T. vogelii leaves. with the diffusion method so that deguelin compounds provide an inhibitory value of 6.3 mm against V. harveyi and 6.2 mm against V alginolitycus. Whereas tephrosine gave an inhibition value of 6.3 mm against V. harveyi and 6.6 mm against V alginolitycus. This is the first antibacterial evaluation of deguelin and tefrosin against the two bacteria tested. PENDAHULUAN Penyakit pada udang windu umumnya dapat disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari infeksi virus, bakteri, jamur, dan parasit. Pada infeksi karena bakteri, vibriosis merupakan salah satu penyakit yang penting, yang disebabkan oleh bakteri Vibrio dengan agen penginfeksi meliputi Vibrio alginolitycus, V. harveyi, dan V. parahaemolitycus. Penyakit ini seringkali dikaitkan dengan kerugian yang cukup besar pada pertambakan udang, dan penyebarannya terjadi hampir di seluruh dunia. Tingkat infeksi pada vibriosis sangat tinggi dan bersifat akut, sehingga dapat menyebabkan kematian larva udang sampai 100% dalam waktu 1-2 hari. Bakteri ini juga cukup sulit diberantas atau udang yang terserang tidak dapat disembuhkan [1]. Di Indonesia, penyakit vibriosis pada udang windu telah dilaporkan terjadi hampir di seluruh wilayah, meliputi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara.