Copyright© 2022; Author(s),
ISSN: 2655-4666 (print), 2655-4682 (online) | 283
This work is licensed under a Creative Commons Attribution- -
ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0)
Nabi dan Sahabat: Teologi Publik sebagai Keterlibatan Simbolis
Joas Adiprasetya
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta
joas.adiprasetya@stftjakarta.ac.id
DOI: https://doi.org/10.34307/b.v5i2.413
Abstract: By using “symbolic engagement” as its method for thinking of the relationship
between Church and the public space, this article proposes a constructive public
theology that emphasizes the threefold prophetic task: critique, solidarity, and hope.
Such a prophetic task must be carried on in the dialectic between the church’s
faithfulness to the Kingdom of God and its participation in the world dominated by other
kingdoms or empires. Therefore, any public theology must assert the identity of the
church as a faithful presence, which simultaneously prophetic and hospitable.
Keywords: symbolic engagement; prophetic; friendship; faithful presence
Abstrak: Dengan mempergunakan “keterlibatan simbolis” sebagai metode berpikir
bagi relasi Gereja dan ruang publik, makalah ini mengusulkan sebuah konstruksi
teologi publik yang menampilkan tugas profetis dengan tiga poros, yaitu kritik,
solidaritas, dan pengharapan. Tugas profetis tersebut harus dijalani dalam
ketegangan di dalam kesetiaan Gereja pada Kerajaan Allah dan keterlibatan di dalam
dunia yang dikuasai oleh kerajaan-kerajaan lain (empire). Maka, teologi publik harus
menegaskan identitas Gereja sebagai sebuah kehadiran yang setia, yang sekaligus
profetis dan bersahabat.
Kata Kunci: keterlibatan simbolis; profetis; persahabatan; kehadiran yang
setia
1. Pendahuluan
Percakapan mengenai dimensi publik dari Gereja, sebagaimana terangkum lewat
istilah “teologi publik”, mengandaikan adanya relasi antara Gereja sebagai sebuah ruang
publik dan ruang-ruang publik lainnya. Dulu, teologi Kristen di Indonesia lebih akrab
dengan istilah “Gereja dan Masyarakat”,
1
yang tampaknya mengandaikan bahwa masing-
masing merupakan entitas yang berbeda satu dari yang lain. Namun, istilah teologi publik
belakangan lebih lazim dipergunakan justru untuk memperlihatkan relasi yang lebih
1
PGI, misalnya, memiliki tradisi menyelenggarakan Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM). KGM
terakhir, jika tak keliru adalah yang kesepuluh, yang diselenggarakan di Watutumou, Sulawesi Utara. Tema
yang diambil adalah “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir”, dengan sub-tema “Bersama Seluruh Warga
Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI yang Demokratis, Adil dan Sejahtera bagi Semua Ciptaan Berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.”
Article History : Received: 13-11-2022 Revised: 13-12-2022 Accepted: 31-12-2022
Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN 2655-4666 (print), 2655-4682 (online)
Volume 5, No 2, Desember 2022; (283-299) Available at: http://www.jurnalbia.com/index.php/bia